Angkie, Antara Inspirasi dan Realiti

Standard

Saya baru saja lihat sebuah iklan yang menarik, tentang seorang perempuan yang menjadi inspirasi banyak orang, terutama bagi yang berkebutuhan khusus. Sosoknya secara personal terlihat menarik. kita tidak bicara mengenai fisik cantik, melainkan melalui sungging senyumnya dalam iklan tersebut. Luar Biasa.

Namanya Angkie Yudistia. Penasaran, saya klik website yang dimilikinya. Ternyata Angkie adalah seorang tuna rungu sejak usia 10 tahun. Kini usianya 25 tahun, namun beragam prestasi sudah diraihnya. sekali lagi, luar biasa.

Melalui respon-respon yang disampaikan oleh banyak orang baik dalam maupun luar negeri, Angkie dapat menjadi ikon bagi seorang pribadi yang menginspirasi. Bahkan melalui bukunya, Angkie menyatakan “bahwa hidup tidak semudah yang kita harapkan. Masalah selalu timbul setiap saat, tapi justru masalah yang membuat kita bijak dalam menghadapi masa depan.” Sederhana.. bahkan kita terlalu sering di doktrin ungkapan serupa, namun masalahnya justru terletak pada tataran melakukannya. Mandeg!

Inspirasi dan Realiti.

Akhir-akhir ini, kata “inspirasi” seringkali kita dengar. Motivator menjadi sumber inspirasi. Talkshow di setting meyakinkan untuk menjadi inspirasi. Bahkan Inspirasi Indonesia menjadi statement positioning bagi sebuah stasiun televisi. Dari mana datangnya inpirasi? dari mimpi? dari realiti? Atau justru inspirasi adalah mimpi yang menjadi realiti?

Banyak definisi yang dikemukakan, yang paling mudah misalnya melalui search engine. Macam-macam definisnya, mulai dari inspirasi adalah kualitas hidup, percikan ide kreatif, hasil dari rajin mengamati dan berfikir panjang, hingga secercah cahaya pendorong niat dan perbuatan. Inilah pemaknaan tiap orang, membuktikan bukan hanya manusia adalah homo sapiens yang diidentikkan pintar, juga menunjukkan bukti kebesaran Tuhan, betapa tiap manusia memiliki karakteristik yang unik, karena pemaknaan tiap individu berbasis pada Frame of Reference dan Field of Experience nya, tentu saja dengan seizin Allah.

Kembali lagi kepada sosok Angkie, yang diberikan talenta luar biasa, dan dengan kesadaran atas keterbatasannya yang kurang bisa mendengar, Angkie meyakinkan sekitarnya bahwa pada prinsipnya, manusia memiliki kelebihan yang tak terbatas, dimulai dengan lengkungan sederhana di bibirnya, sedekahnya kepada insan lainnya. Senyum. Yang kemudian dapat membangkitkan semangat banyak orang, karena sungging senyum itu menjadi refleksi bagaimana sosok Angkie yang sesungguhnya 

Angkie mampu menunjukkan dirinya, atau dalam teori Maslow, Angkie melesat menuju aktualisasi diri, sebagai hirarki tertinggi dalam tingkat kebutuhan manusia. Ia dapat menjadi sosok inspirasi bagi orang yang memiliki kesamaan dengannya, namun tidak menutup kemungkinan dirinya juga menjadi inspirasi bagi manusia yang secara fisik normal, yang seharusnya dapat lebih terpacu, minimal dengan “stop complaining for everything”.

Inspirasi dan Realiti, bisa jadi dua hal yang berbeda. Namun, inspirasi idealnya diwujudkan dalam realiti hidup. Bukan menjadi katalis saja dalam bertindak, melainkan kita dapat me- re-inspirasi pula bagi orang sekitar. Ibarat Multi Level Marketing, bisa kita mulai dengan target diri yang berkembang dan menular bagi downline seterusnya..

Angkie Yudistia menjadi sebuah contoh, bahwa dirinya menjadi inspirasi dan mewujudkannya dalam realiti, bukan hanya bagi dirinya, namun bagi dunia. Dan yakinlah, InsyaAllah kita juga bisa…Amiin.

Nasionalisme. Punyakah Kita?

Standard

Nasionalisme. Sebuah kata sakti untuk menunjukkan kecintaan individu pada tanah airnya. Menjadi sebuah bukti kebanggan individu akan status kewarganegaraannya. Atau justru menjadi sebuah impian ataupun ideologi yang ternyata memiliki tingkat abstraksi tinggi, bahkan cenderung absurd.

Seseorang yang membela negaranya, disebut sebagai nasionalis. Orang yang mengibarkan bendera di depan rumahnya takkala peringatan hari kemerdekaan pun disebut sebagai nasionalis. Bahkan, ketika “kewajiban” mengenakan batik bagi PNS di tiap hari Jum’at, pun… disebut sebagai perwujudan bahwa kita adalah negara yang memiliki warga negara nasionalis!

Banyak sekali simbol-simbol komunikasi yang dapat mengidentikasikan diri kita menjadi nasionalis. Atau tidak nasionalis. Simbol-simbol itu, kadang kita elu-elukan sebagai sebuah pembeda kita dengan bangsa lain, yang konon katanya tidak memiliki kebudayaan setinggi Indonesia. Hmm.. ini hal lain yang bisa dipertanyakan kembali, tapi lain kali saja. Karena, kali ini, saya sedang tergelitik dengan nasionalisme! Bukan apa-apa, trigger ini muncul pasca menonton pertandingan sepak bola antara Indonesia dengan Inter Milan di Gelora Bung Karno pada 26 Mei 2012 lalu.

Ironis. Atau saya berani mengatakan, kita tidak nasionalis. ketika team favorit dari Italia, datang dan bertanding dengan saudara sebangsa, kita justru lebih mendukungnya. Terbukti dari hampir seluruh penonton menggunakan kaos berwarna biru, atribut inter milan (kalo boleh dibilang diantara 100 orang, 2 orang pake baju merah putih). Simbol yang sederhana, namun sebenarnya mengoyak konsep nasionalisme, pelajaran PPKN, dan mata kuliah Kewarganegaraan, apalagi tentang wawasan kebangsaan yang selalu di doktrin oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Tapi, yah… apa mau dikata, apabila, kita lebih suka dan bangga untuk cinta dengan team favorit dari pada team negara yang (kurang) favorit. Gemuruh sorak sorai untuk team inter milan jauh lebih membahana daripada sorak sorai untuk team Indonesia…. padahal, lebih mudah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dari pada yel-yel Italia….

Nasionalisme, menjadi isu yang strategis, bila berkenaan dengan pertahanan dan keamanan (hankam) negara. Benar kiranya, bila masalah hankam ini tidak harus melulu berbicara tentang militer. karena masalah hankam, juga dapat dilihat dari perspektif yang lain, mulai dari budaya, bahasa, tata kehidupan, pranata sosial, bahkan nonton bola… Tapi, sepertinya semua bagai angin lalu ketika terbentur pada cerita Era Globalisasi….

Apakah saya tidak setuju dengan pasar bebas atau konsep global villlage?
Bukan… bukan itu maksud saya… kali ini tulisan saya hanya sedang merenung… dan bertanya….
nasionalime? apakah kita benar-benar memilikinya?
Benarkah bahwa kita sungguh-sungguh mencintai negara ini?

*Just a part of my journey of life seeing my surrounding….

Propaganda Ujian

Standard

Ibarat propaganda ketika ujian….

Posisi menentukan prestasi… ada gula ada semut, dimana si pintar duduk, maka kursi kiri, kanan, depan, belakang, pasti sudah tersirat ‘reserved’. Dengan metode quick count, pojok belakang kiri maupun kanan bisa jadi kursi pilihan terbanyak . Ataupun bila posisi tadi sudah “terpenuhi”, maka aksi bunglon siap dilakukan meski posisi di depan, tengah, atau dimanapun, memperhitungkan sudut pandangan dari meja pengawas, salinan materi yang minimalis sudah siap. Minimalis maksudnya font ukuran 3-4, spasi 1, sobekan A4 menjadi 25 bagian, dan pasang muka serius nan lugu, maka kita jadi peserta ujian yang nyaris tak terlihat bagi pengawas.

Barusan itu, strategi peserta ujian mengimplementasikan kebijakan propaganda ujian. Ada pula jargon bagi pengawas ujian bahwa Prestasi pengawas ujian adalah ketika “menangkap contekan”. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada si tukang contek, saya gunakan personifikasi tersebut.

Beberapa kali saya menangkap contekan. Modusnya macam-macam, selain modus klasik bikin salinan mini materi tadi. Ada yang menulisnya di balik kartu ujian, di kertas double folio yang sama dengan lembar jawaban, di tangan, di dinding dekat kursi, di kursi duduk, bahkan di whiteboard sekalipun. Kalau yang terakhir ini, sewaktu saya ngawas ujian statistik. Rumus simpangan baku terpampang jelas di papan. Meski saya ga pintar-pintar amat dengan statistik, tapi sedikit tau bahwa itu rumusnya. Contekan berjamaah.. ;)

Notabene menangkap contekan, saya tetap tidak bisa melihatnya sebagai sebuah prestasi. Setiap saya minta baik-baik contekannya, si tukang contek akan berkelat kelit dan silat lidah menyimpan contekannya. EQ saya kadang diuji. Karena ada yang menyertai dengan dusta kata atau transmisi pesan non verbalnya yang mengatakan, ”swear, bu.. ga ada nyontek!”. Hah?

Bisa saja sebenarnya saya duduk manis di depan, atau baca koran, ngobrol dengan pengawas lainnya, atau saya SMS an saja sebagai upaya penyelamatan mati gaya daripada tensi naik untuk strategi menangkap si tukang contek. Tapi, kok kayaknya ada yang salah dengan hal tersebut…apa ya? Tidak menjalankan tugas? Gak juga. Atau saya terlalu serius jadi pengawas? Haha… sepertinya tidak juga… Barangkali ada dua alasan untuk menjadi pengawas yang menyebalkan versi peserta ujian. Mau tau???Mau tau…??? Aha.. !!!

Pertama, saya selalu ngantuk kalau duduk saja tanpa melakukan sesuatu, makanya kalaupun saya duduk di depan, pasti ada yang saya utak atik, baca absen sampai-sampai saya hampir hapal nama lengkap peserta ujian. lantas saya uji ingatan saya dengan melihat dimana si ini , dimana si itu. Iseng banget? Makanya kalau lelah begitu, saya berdiri dan mulai ”bergerak”. Hohoo..

Kedua, saya suka membaca gestural peserta ujian. Sebagai sebuah pelajaran ilmu komunikasi bagi saya untuk memahami pesan non verbal mereka. Membuktikan kata pakar komunikasi bahwa pesan non verbal tidak bisa berbohong. Dan iya, ada gestural yang selalu sama bagi para tukang contek. Itu yang selalu saya katakan kepada mahasiswa saya, bahwa saya bisa belajar banyak dari mereka, termasuk juga oknum pencontek . Ups..

Ketiga, saya suka saja jadi pengawas ujian…hahaa.. Ga perlu alasan ;)

Sekali lagi, ibarat propaganda dan jargon kala ujian…
Posisi Menentukan Prestasi? Atau Posisi Pengawas Menentukan Prestasi? Ada baiknya mulai berfikir, Prestasi Menentukan Posisi, bukan hanya untuk saat ini, tapi juga nanti… Nilai yang diperoleh nihil harganya bila diperoleh melalui contekan, dan bisa menjadi aib seumur-umur, karena bisa jadi kita menjadi orang yang tidak akan pernah dipercaya untuk setiap karya yang coba kita buat kelak. Dan tragisnya, meskipun pengawas ujian tak melihat, batin Anda pasti berkata, “nilai ini saya dapat karena mencontek..nilai itu saya dapat karena tak jujur..dan saya malu karenanya”.

Wallahu’alam..

Bermimpi Menjadi Peserta Kuis di Televisi

Standard

Acara kuis bergulir tanpa henti di televisi kita. Tidak ada yang tidak menyajikan hadiah yang menggiurkan bahkan hanya sekedar kuis untuk anak-anak. Demikian maraknya acara kuis ditelevisi menjual berbagai impian pemirsa untuk memiliki hadiah-hadiah yang ditawarkan, dan itu tentu saja dapat terjadi bila pemirsa menjadi peserta kuis. Padahal, disadari atau tidak, bentuk kuis-kuis di televisi kita cenderung mengarah kepada perjudian.

Perjudian merupakan pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang diangap bernilai,dengan menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlmbaan dan kejadian-kejadian yang tidak/belum pasti hasilnya. Menurut Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 303 ayat 3, main judi itu berarti tiap-tiap permainan yang kemungkinanya akan menang pada umumnya tergantung pada untung-untungan saja; juga kalau kemungkinan bertambah besar, karena pemain lebih pandai atau lebih cakap. Main judi mengandung juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau main itu, demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Kecenderungan untuk melakukan perjudian sudah ada sejak manusia memulai peradabannya. menurutKartini Kartono dalam bukunya Patologi Sosial, pada mulanya perjudian itu berwujud permain atau kesibukan pengisi waktu senggang guna menghibur hati jadi sifatnya rekreatif dan netral. Pada sifat yang netral ini, lambat laun ditambahkan unsur baru untuk merangsang kegairahan bermain dan menaikkan ketegangan serta pengharapan untuk menang, yaitu barang taruhan, berupa uang, benda, atau sesuatu tindakan yang bernilai. Kini, seiring dengan kemajuan zaman, perjudian sudah merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan, dan kini penyebarannya pun kian “canggih” melalui komunikasi massa.

Komunikasi massa merupakan komunikasi melalui media massa, yakni surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film. Media massa menempati posisi yang demikian penting di masyarakat sekarang ini. Peranan media massa tidak dapat dipisahkan dari fungsinya untuk memenuhi kebutuhan akan pengawasan lingkungan , hubungan sosial , hiburan , dan transmisi kultural. Sebagai wadah yang mampu menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya, media massa menyajikan berbagai informasi yang bersangkutan dengan masyarakat itu sendiri.
Televisi, sebagai salah satu media massa yang populer di masyarakat, memiliki karakteristik tertentu . Karakteristiknya, seperti isi pesan audiovisual yang dapat dilihat dan didengar , menjadikannnya lebih unggul dibandingkan dengan media massa lainnya.

Pelaku perjudian melihat peluang yang menggiurkan di balik mudahnya akses televisi ke rumah pemirsa. Dengan iming-iming jutaan rupiah, mobil, rumah, atau hanya sekedar hadiah hiburan berupa sepatu cukup membuat pemirsa menggantungkan impian menjadi peserta kuis.
Memang, tampilan kuis yang memikat ditambah bintang tamu artis akan membuat pemirsa tertarik, belum lagi kuis-kuis yang disajikan relatif mudah, hanya menebak gambar, mengingat angka, menjawab benar atau salah, hingga hanya sekedar diam pun akan mendapatkan hadiah. Bentuk-bentuk “kemudahan” ini akan membuat masyarakat terlena dan dampaknya, kemauan kerja keras menjadi kurang karena mengharapkan dirinya menjadi peserta kuis.

Dampak perjudian seperti ini lambat laun akan mempengaruhi kelangsungan hidup negara, karena warga negaranya sibuk dengan permainan judi yang menghabiskan bukan hanya waktu, namun juga kemampuan fisik dan mental, materi dan non materi. Masyakat kita akan cenderung menjadi malas dan terus menunggu giliran menjadi peserta kuis.
Hidup manusia memang penuh dengan faktor spekulasi. Spekulasi yaitu kemungkian mendapatkan untung atau rugi berperan penting dalam aktivitas manusia. Jika dalam usaha tadi ada unsur untung-untungan melulu, maka aktivitas itu disebut judi. Lalu bagaimana membedakan dan menempatkan spekulasi yang benar sehingga tidak terjerumus menjadi judi ?

Dalam menjalankan segala aktivitas, manusia selalu dihadapkan pada dua pilihan; menang atau kalah, benar atau salah, untung atau rugi, dan dikotomi lainnya yang tidak dapat dipisahkan. Penempatan spekulasi yang benar, bila kita menjalani suatu aktivitas untuk mencapai suatu tujuan, kita memperhitungkannya dengan kalkulasi rasional dan data faktual, serta mempertimbangkan akibat-akibatnya bila kita memilih sesuatu dan bukan yang lainnya.

Perjudian di televisi memang agak “terselubung”, karena mengedepankan unsur hiburan dan pengisi waktu bagi pemirsa. Bagi peserta kuis hanya ditambah faktor hadiah sebagai “reward” karena turut berpartisipasi dalam acara kuis. Pengelola kuis dan stasiun televisi pasti menolak bila divonis telah melakukan pelegalan perjudian. Dan hebatnya lagi, kita pun merasa itu hanya tayangan yang menghibur karena menyaksikan peserta kuis bertarung memperebutkan hadiah.

Sebenarnya timbul pertanyaan di benak kita, apakah stasiun televisi “sengaja” menyajikan acara kuis itu untuk mengenalkan agenda perjudian sebagai sesuatu yang wajar dan pasti berlangsung seiring dengan nafsu manusia yang tidak penah puas dengan apa yang dimiliki? Apakah televisi sedang melakukan “agenda setting”, untuk melegalkan perjudian? Segala keputusan kembali kepada kita bagaimana kita mencermati tayangan kuis di televisi, sebagai hiburan belaka, atau akan terus bermimpi untuk menjadi peserta kuis.
—————–

Agenda Setting Model

Standard

Agenda setting dikembangkan oleh Maxwell E. McComb dan Donald L. Shaw. Agenda Setting model memperbaharui penelitian efek yang diabaikan oleh model Uses and Gratification. Agenda setting memusatkan perhatian pada efek media massa terhadap pengetahuan. Dengan perkataan lain, fokus perhatian bergeser dari afektif ke kognitif.

Menurut teori ini, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk mengubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Pendeknya, media massa memilih informasi yang dikehendaki dan berdasarkan informasi yang diterima, khalayak membentuk persepsinya tentang berbagai peristiwa.
Bernard Cohen berhasil menyimpulkan model agenda setting dengan dua kalimat sebagai berikut: “ It may not be successful much on the time in telling people what to think but it is stunningly successful in telling its readers what to think about (Cohen 1963:13 dalam Rakhmat, 1999:200)

Teori agenda setting dimulai dengan suatu asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang hendak disiarkannya. Secara selektif, gatekeepers seperti penyunting, redaksi, bahwkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan bagimana media menyajikan peristiwa, itulah yang disebut sebagai agenda media.

Karena pembaca, pemirsa, pendengar memperoleh kebanyakan informasi melalui media massa, maka agenda media tentu berkaitan dengan agenda masyarakat (publik agenda). Agenda masyarakat diketahui dengan menanyakan kepada anggota masyarakat apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka bicarakan dengan orang lain, atau apa yang mereka anggap sebagai masalah yang tengah menarik perhatian masyarakat (community salience) (Rakhmat, 1999:229-230).

Bila media massa terbukti sanggup membentuk citra orang tentang lingkungan dengan menyampaikan informasi, kita juga dapat menduga media massa tertentu berperan juga dalam menyampaikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang baik.(Eriyanto, 1999:230). Setiap masyarakat mempunyai serangkaian penjelasan tentang realitas, yang merupakan gambaraan terpadu dan homogen tentang apa yang ada, apa yang penting, apa berhubungan dengan apa, dan apa yang benar. Setiap masyarakat berusaha menanamkan sejenis peraturan yang menetapkan apa yang boleh dan tidak. Peraturan ini disebut ideology. Ideology itu melahirkan dirinya dalam bentuk teks, pesan-pesan yang diproduksi lembaga-lembaga social dan tampak pada proses komunikasi.(Rakhmat, 1999:249).

Sementara itu, Manheim dalam pemikirannya mengenai konseptualisasi agenda yang potensial untuk memahami proses agenda setting meliputi tiga agenda, yaitu agenda media, agenda khlayak, dan agenda kebijaksanan. Masing-masing agenda itu mencakup dimensi-dimensi berikut:
1. Untuk agenda media, dimensi-dimensi:
a. Visibility (visibilitas) yaitu jumlah dan tingkat menonjolnya berita.
b. Audience salience yaitu relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak
c. Valence yaitu menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa

2. Untuk agenda khalayak, dimensi-dimensi:
a. Familiarity yaitu derajat kesadaran khalayak akan topic tertentu
b. Personal Salience yaitu relevansi kepentingan dengan ciri pribadi
c. Favorability yaitu pertimbangan senang atau tidak senang terhadap topik berita

3. Untuk agenda kebijaksanaan, dimensi-dimensi:
a. Support yaitu kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu
b. Likekihood of action yaitu kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan.
c. Freedom of action yaitu nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah.

Konsep Manheim tersebut mendukung perkembangan teori agenda setting secara menyeluruh (Manhein dalam Servin dan Tankard, Jr. 1992:226 dalam Effendy,1993, 188-189). Pihak media memang sering menilai dirinya sebagai refleksi masyarakat, yang menampilkan gambaran masyarakat secara lebih jelas dan memungkinkan unsur-unsur dalam masyarakat mengekspresikan dirinya kedalam segenap anggota masyarakat. Konsep media sebagai penyaring telah diakui masyarakat, karena media seringkali melakukan seleksi dan penafsiran terhadap suatu masalah. (McQuail, 1987: 53).

Referensi
Effendy, Onong U. 1981. Dimensi-Dimensi Komunikasi. Alumni, Bandung.
McQuail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta
Rakhmat, Jalaluddin. 1999. Psikologi Komunikasi. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Aborsi, Masalah Laten Multidimensi

Standard

Setiap tahun terdapat sekitar 2,6 juta kasus aborsi di Indonesia. Aborsi atau abortus atau yang biasa dikenal masyarakat kita sebagai pengguguran kandungan berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Kadang-kadang kita tidak habis pikir, Apa yang membuat wanita menggugurkan kandungannya? Dimana rasa kasih sayangnya? Dimana rasa keibuannya?

Wanita merupakan makhluk yang indah. Ia memiliki kemuliaan yang tidak dimiliki oleh pria. Wanita memiliki rahim yang dalam Al-Qur’an dikatakan, bahwa rahim itu adalah kasih sayang. Wanita identik dengan kasih sayang. Rahim pada wanita merupakan tempat yang paling menyenangkan bagi janin yang kelak akan tumbuh sebagi anaknya. Rahim yang hangat dan kokoh akan melindungi janin dan segala sesuatu yang sekiranya akan menghalangi perkembangannya. Namun, tempat yang aman itu akan berubah menjadi neraka bagi si janin, apabila ia dicekoki jamu atau obat tradisional, suntikan hormon, bahkan pemijatan untuk mengeluarkan si janin dengan paksa dari tempatnya yang paling nyaman.

Masalah aborsi bukan hanya masalah wanita, karena aborsi merupakan masalah multidimensional yang melibatkan banyak unsur, seperti masyarakat, profesi kedokteran, dan perundang-undangan. Ia pun bisa dilihat dari beberapa aspek, seperti medis, hukum, moral, psikologi, ekonomi, dan sosial.
Banyak faktor yang melatarbelakangi timbulnya aborsi. Yang paling klise adalah mereka yang berusia 17-24 tahun melakukannya karena dua faktor.Pertama, pengetahuan remaja tentang seksualitas masih sangat rendah, dan kedua, faktor tidak adanya sensor dari dalam remaja sendiri terhadap rangsangan dari luar.

Hubungan di luar nikah yang menyebabkan kehamilan akan membawa persoalan pelik dalam kehidupan mereka. Di satu sisi, mereka merasa ini hasil perbuatannya dan mereka harus bertanggung jawab atasnya. Namun, di sisi lain, mereka malu untuk bertemu dengan orang-orang karena hamil di luar nikah. Seiring dorongan inilah mereka langsung mendatangi praktik aborsi dan melakukannya. Bahkan, orang tua mereka yang merasa malu akibat perbuatan anaknya, turut mendukung dalam praktek tersebut.

Kecenderungan masyarakat kita yang langsung memvonis wanita hamil di luar nikah sebagai wanita yang “tidak benar”, memaksa mereka untuk segera menggugurkan kandungannya, walaupun kondisi kehamilannya disebabkan oleh tindakan kekerasan (perkosaan). Kehamilan yang disebabkan oleh perkosaan sudah menjadi beban mental yang berat. Dilema memang dirasakan wanita yang mengalaminya. Hanya segelintir yang mau menerima kehamilan seperti itu, walaupun bila mereka melahirkannya, tidak sedikit yang akan menyia-nyiakan anak tersebut.

Secara medis, aborsi dapat dilakukan untuk keadaan darurat seperti misalnya, jika kehamilan itu membahayakan kesehatan fisik dan emosional si ibu. Dari segi ekonomi, kehamilan pada beberapa profesi akan memberikan konsekuensi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), seperti misalnya pramugari yang terikat kontrak kerja. Selain itu, beban finansial keluarga pun akan bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah anak.

Dari segi moral, kodrat seorang ibu adalah melahirkan dan melindungi anaknya. Jadi, tindakan mematikan janin pada dasarnya bertentangan dengan moral. Secara psikologis, aborsi dapat menimbulkan perasaan bersalah pada si ibu dan umumnya ia akan mengalami depresi kronis sampai beberapa bulan karena teringat pada bakal anak yang digugurkannya, belum lagi dari sisi sosial, bila ia masih berstatus pelajar, maka ada kemungkinan ia kan menjadi remaja putus sekolah karena malu. Sedangkan dari segi agama, agama apapun tidak menyetujui adanya praktek aborsi. Dalam kajian hukum Islam misalnya, aborsi terhadap janin yang telah berumur 120 hari hukumnya adalah haram.

Menurut hukum, sebagaimana di atur dalam pasal 15 UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan tindakan aborsi yang disengaja dan tanpa alasan khusus merupakan kegiatan yang dilarang, kecuali untuk menyelamatan jiwa ibu hamil dan atau janinnya. Selain itu masalah batasan usia kehamilan yang sah secara hukum untuk digugurkan belum jelas. Begitu juga mengenai jenis-jenis penyakit yang dapat menjadi alasan tindakan aborsi. Alhasil, di Indonesia, pelaksanaan aborsi diselewengkan untuk alasan non medis bahkan komersial.

Terlepas dari semua penyebab dan dampak yang ditimbulkan, sekiranya kita harus mencari jalan keluar. Masalah aborsi tidak bisa berdiri sendiri dan tidak mungkin diselesaikan oleh satu sudut pandang saja. Ia merupakan masalah kompleks yang membutuhkan berbagai kebijakan, baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri. Pencegahan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan merupakan solusi terbaik. Pendidikan agama, moral, reproduksi, ataupun berbagai kegiatan penyuluhan, dapat menjadi langkah awal untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Bahkan, penggunaan alat kontrasepsi pun, terutama pasca menikah, secara tidak langsung dapat meminialisasi angka aborsi.

Pendidikan seks diberikan orang tua kepada anak ketika mengalami masa puber. Agar efektif, orang tua harus memperhatikan cara yang tepat dalam mengkomunikasikannya. Ajak anak berbicara seperti teman dan jangan terkesan menggurui. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perhatian terhadap anak. Pertama, peningkatan intensitas dan kualitas dari perhatian tersebut. Maksudnya adalah, di tengah sibuknya orang tua atau si anak sendir, harus disisakan waktu untuk dapat berkomunikasi dengan bauik. Kedua, orang tua harus memberikan keteladanan kepada anak. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mampu memberikan keteladanan kepada anak-anaknya. Ketiga, mendorong agar anak masuk pada situasi dan lingkungan yang agamis.

Di jaman modern seperti sekarang, informasi mudah diperoleh dimana saja dan kapan saja. DVD porno, internet, ataupun buku-buku yang menjurus ke arah “itu”, dapat merangsang remaja untuk mendapatkan pengetahuan tentang seks yang tidak mereka dapatkan dari orang tuanya. Orang tua yang menyayangi anaknya tidak akan membiarkan anaknya terkungkung dalam kondisi yang menyesatkan seperti itu. Anak harus mendapatkan perhatian dan pendidikan yang cukup. Sesuaikan cara mendidik anak dengan perkembangan jaman. Jangan memberikan pendidikan kepada anak seperti ketika mereka mendapatkannya dari orang tuanya dulu. Jaman terus berubah. Kedinamisan jaman mesti diiringi dengan kedinamisan orang tua dalam membesarkan anaknya, walaupun ada nilai-nilai yang tidak dapat diubah, misalnya sopan santun.
Orang tua harus mampu memberikan jawaban yang diinginkan anak untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Pengetahuan yang mereka peroleh dari pihak lain semacam internet dapat menyesatkan mereka, karena medium ini, selain memberikan informasi yang sepotong-sepotong, juga hanya memandang seks dari segi kepuasan biologisnya saja. Sehingga pada akhirnya, akan menyebabkan terjadinya hubingan seks di luar nikah yang merupakan salah satu faktor timbulnya kehamilan yang tidak diinginkan.

Aborsi, merupakan masalah laten yang tidak kunjung selesai. Hal ini berkaitan dengan manusia itu sendiri, dengan segala hawa nafsunya tidak memandang bahwa mereka melakukan tindakan yang mengerikan. Masalah aborsi memang multidimensional. Ia melibatkan banyak pihak dan banyak aspek. Namun, sebagai anggota masyarakat, kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk mencegah atau minimal mengurangi tindakan aborsi, terutama karena faktor non medis. **

referensi:

http://www.aborsi.org

Fungsi Otak: IQ, EQ, dan SQ

Standard

Otak kita merupakan sebuah ”perangkat” yang luar biasa. Dua belas miliar sel-sel saraf otak memiliki potensi untuk membuat lebih banyak pola keterkaitan dibandingkan dengan jumlah atom yang diperkirakan ada di jagat raya. Sejumlah besar bukti menunjukkan bahwa otak kita menyimpan ingatan tentang segala sesuatu yang pernah kita lihat, dengar, sentuh, bau, atau pikirkan. Kapasitasnya seperti tidak terbatas. Namun, kapasitas yang sangat besar itu tetap tersembunyi karena kebanyakan dari kita tidak pernah tahu bagaimana memanfaatkan otak secara maksimal. Para psikolog memperkirakan bahwa kita memanfaatkan kurang dari satu persen potensi otak kita. (Peter Russel dalam Gelb,2005:25-26)

Pada awal era 1970-an, Dr. Roger Sperry, seorang penerima nobel untuk bidang fisiologi dan kedokteran, merintis riset yang melahirkan gagasan populer tentang otak kiri dan otak kanan. Dengan mengkaji gelombang otak dari orang-orang yang mempelajari tugas-tugas yang berbeda, Sperry dan beberapa rekannya menyimpulkan bahwa kedua belahan-atau sisi-sisi-otak cenderung mengkhususkan diri pada pemikiran tertentu.

Otak kiri bertanggung jawab terutama untuk memproses hal-hal yang terkait dengan logika, bahasa, perincian, pola pikir matematis dan analisis, sedangkan otak kanan memproses hal-hal yang terkait denga ritme, warna, hubungan spasial, imajinasi, dan sintesis. (Peter Russel dalam Gelb,2005:27)

Sayangnya sejak dini, pendidikan kita mempersiapkan untuk terlalu menekankan pada kegiatan-kegiatan otak kiri, sperti membaca, menulis, dan aritmetika, adalah tiga mata pelajaran pertama yang kebanyakan dipelajari oleh kita. Mereka yang memiliki keahlian-keahlian ”otak kiri” yang dominan ini dianggap sebagai ”genius-genius” di kelas, yang kemungkinan besar dianggap akan memperoleh sukses. Sebaliknya anak-anak yang pandai membuat tulisan-tulisan yang kreatif, berkhayal, dan memukuli meja mereka dengan irama-irama yang inovatif dinilai dengan cara yang berbeda. Anak-anak kreatif yang penuh imajinasi ini kerap di cap sebagai ”anak-aak bermasalah” .Ciri khas otak kanan seperti berkhayal, berimajinasi, dan rasa humor jarang mendapat dukungan dalam proses pendidikan di sekolah.(Gelb, 2005:28-29)

Sejak temuan pertama Sperry tentang dua belahan otak, para peneliti mendapati bahwa setiap belahan otak ternyata mampu melakukan pekerjaan belahan otak lainnya, dan bahwa pembagian fungsi tersebut tidaklah setegas yang semula. Gelb mengusulkan istilah berpikir dengan ”belahan otak kiri” dan ”belahan otak kanan” untuk menyatakan berturut-turut kemampuan berpikir logis dan berkhayal. Dimana pun kemampuan-kemampuan tersebut ditemukan, kinerja maksimal kita merupakan hasil dari penggunaan mereka secara seimbang.(Gelb, 2005:158)

Menurut Ary Ginanjar, Inteligence Quotation berada pada neo cortex sementara Emotional Quotation berada pada Lymbic System.
IQ diperoleh dengan melatih kebiasaan kognitif umumnya lebih mudah dibandingkan melatih kecerdasan emosi (EQ). Melatih orang untuk mengoperasikan komputer, menghafal daftar, merupakan sederetan kebiasaan kognitif yang berasal dari otak kiri. Sedangkan otak kanan yang lebih berperan dalam kecerdasan emosi, bagaimana untuk konsisten, memiliki komitmen,berintegritas tinggi, berpikiran terbuka, memiliki kepercayaan diri, jujur, adil, bijaksana, dan lain sebagainya, jarang mendapat perhatian.(Ginanjar, 2005:xlviii)

IQ merupakan kecerdasan otak yang dimaksudkan untuk kecerdasan secara analitis, logika, matematis, dan lain sebagainya yang kerap dipelajari ketika sekolah. IQ tidak menjamin kesuksesan seseorang, karena ia hanya memaksimalkan penggunaan otak kirinya dalam berpikir. Segala sesuatu hanya diperhitungan dan dipikirkan secara matematis. IQ hanya menyentuh keterampilan kognitif. Contohnya; seorang anak yang sejak kecil hanya dididik dan diajarkan bagaimana berhitung yang cepat, bagaimana menulis yang bagus, bagaimana bisa memahami suatu pelajaran dengan cepat, maka akan diberikan predikat sebagai ”anak pintar”. Kecerdasan otak semacam ini sangat rawan bila tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional.

EQ atau kecerdasan emosional lebih menyentuh lapisan yang cukup dalam dari fungsi otak. EQ bekerja dalam bentuk afeksi yang berada pada otak kanan. EQ melalui proses kinerja otak akan berusaha maksimal ketika sensasi datang. Sensasi yang kemudian dia sosiasikan dengan pengalaman masa lalu, kemudian di persepsikan. Bilamana rang tersebut tidak memiliki kecerdasan emosional yang baik, maka asosiasi yang dimilikinya mungkin hanya akan keluar sebagai persepsi yang dangkal dan mentah, tanpa disertai dengan afeksi yang baik. Memori yang ia miliki kemudian digali lagi sehingga pada saatnya ia berpikir, ia akan jauh lebih baik menerima stimuli yang masuk tadi.

Contohnya; seorang dosen yang memiliki kecerdasan emosi yang baik, mampu berperan sebagai tenaga pengajar di kampus dan sebagai ibu rumah tangga di keluarganya. Kecerdasan emosi akan terlihat ketika dosen tersebut tidak membawa masalah keluarganya ke depan kelas, demikian juga sebaliknya, dia tidak akan membawa permasalah kampus ketika sedang bercanda dengan anak-anaknya. Dosen dituntut untuk mampu memerankan panggung depan dan panggung belakang, yang kita sebut sebagai pengelolaan kesan pada saat panggung depan sedang diperankan. Dosen sebagai panggung depan harus menampilkan pemikiran yang matang, bahasa yang santun, manner yang baik, dan penampilan yang tidak membosankan.

SQ atau Spiritual Quotation merupakan kecerdasan spiritual yang memiliki kemampuan utnuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pemikiran tauhid serta berprinsip ”hanya karena Allah

Sedangkan Danah Zohar dan Ian Marshall mendefinisaikan SQ sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. ”. (Ginanjar, 2005:57)

SQ berada pada pada alam tak sadar dari kinerja otak kita. Keyakinan, ketulusan, dan keikhlasan beribadah kepada Tuhan merupakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan bahkan digambarkan dalam fungsi otak kita. SQ lebih bergerak pada hati nurani manusia yang kemudia di pikirkan oleh otak dengan keseimbangan yang sempurna. Contohnya; seorang ulama ketika menyampaikan ceramahnya, sering mengutip ayat suci Alqur’an. Ketika dia mengutip itu, dia ”menyuarakannya” bukan hanya untuk orang lain yang sedang mendengarkan ceramahnya, namun juga untuk dirinya sendiri. Untuk memperkaya batinnya, untuk menyegarkan ingatannya, untuk menentramkan pikirannya. Dalam hatinya, begitu indah ayat suci AlQuran yang memiliki keindahan bahasa dan sturktur kata yang baik dengan makna yang dalam. Kemampuan dan kecerdasan spiritual senantiasa menjadikan seseorang menjadi seeorang yang ikhlas. Yakin, bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, ataupun apapun takdir yang Allah berikan merupakan yang terbaik baginya. Adalah kewajiban bagi dirinya utnuk mencari hikmah dibalik segala ciptaanNya. InsyaAllah.

……………………………..