17 Agustus

Standard

Saya pikir, saya harus update blog saya. Kembali menulis. Tapi saya seperti kebanyakan orang lainnya. Butuh momen. Kali ini, saya pikir momennya tepat. Bertepatan dengan usia kemerdekaan republik ini ke-71.

Bismillah.

Selamat Ulang Tahun, Indonesia.  Merdeka!

Tanggal 17 Agustus demikian sakral bagi kita. Bagi warga negara Indonesia. Tanggal yang terpilih untuk menjadi tanggal pernyataan kemerdekaan sebuah negara yang saat itu dalam kondisi sulit, sakit, namun punya semangat untuk merdeka. Proklamasi dibacakan dengan lantang, bahwa bangsa ini menyatakan kemerdekaannya. Tak perlu  lama Bung Karno membacanya, namun hingga saat ini, kelantangannya masih menggema. Dan terus terputarkan.

Tanggal 17 Agustus juga menjadi hari silaturahmi antar tetangga. Sebelum tanggal ini, kita mungkin hampir lupa bahwa kita punya tetangga.  Kalau bukan karena arisan, pengajian, dan kebakaran, mungkin kita lupa bahwa ada orang lain di sebelah rumah. Layaknya hari raya, ucapan selamat, dan kumpul menjadi saat menyenangkan. Bagi masyarakat lapisan bawah, hingga mereka yang kaya raya. Semua bersilaturahmi dalam satu Indonesia.

Lagi-lagi… tanggal ini juga bisa digunakan sebagai hari Suka Ria.  Tanggal ini menjadi saat menggembirakan bagi anak-anak untuk melatih gerak motoriknya. Bergerak dalam lomba karung, makan kerupuk, dan  lomba bakiak. Bagi para ibu untuk saling gelak tawa tanpa perlu selipan gosip harta tetangga. Bahkan bapak-bapak pun tak pelak pinjam daster sang istri untuk “mempermalukan diri” secara berjamaah bermain bola. Luar biasa. Mungkin, hanya ada di Indonesia perayaan semacam ini.

Fantastisnya adalah,  tanggal ini sangat ajaib. Ajaib bisa menjadikan banyak orang tiba-tiba menjadi nasionalis. Merasa menjadi bagian negara yang selama ini tak diingatnya, selain lembaran-lembaran kartu identitas. Dus, untuk keperluan administrasi semata pula. Ajaib, karena pada tanggal inilah, rata-rata akun media sosial mengunggah dokumentasi kemerdekaan. Menunjukkan kebanggaan menjadi bangsa besar, bangsa Indonesia. Jadi, tolong jangan tanyakan pada tanggal ini, “apakah Anda cinta Indonesia?”. Karena itu pertanyaan bodoh.

17 Agustus memang tanggal istimewa. Istimewa bagi negeri ini. Istimewa juga untuk saya.

Semoga menulis kembali menjadi bagian diri saya lagi. Selamat datang diriku. Selamat untuk membebaskan pikiran dalam tulisan. Dan untuk Indonesiaku, selamat ulang tahun. Merdeka !

 

Start-2016

Standard

Saya akan menggunakan blog ini sebagai catatan harian. Mulai awal tahun 2016, saya ingin menyimpan cerita saya. Kisah mereka, mahasiswa saya tersayang. Akan ada titik awal bagi mereka, proses kuliah, hingga titik akhir yang disebut wisuda. Namun, keberadaan mereka, adanya mereka, meski tidak semua, akan ada yang melekat di hati dan ingatan saya.

Angkie, Antara Inspirasi dan Realiti

Standard

Saya baru saja lihat sebuah iklan yang menarik, tentang seorang perempuan yang menjadi inspirasi banyak orang, terutama bagi yang berkebutuhan khusus. Sosoknya secara personal terlihat menarik. kita tidak bicara mengenai fisik cantik, melainkan melalui sungging senyumnya dalam iklan tersebut. Luar Biasa.

Namanya Angkie Yudistia. Penasaran, saya klik website yang dimilikinya. Ternyata Angkie adalah seorang tuna rungu sejak usia 10 tahun. Kini usianya 25 tahun, namun beragam prestasi sudah diraihnya. sekali lagi, luar biasa.

Melalui respon-respon yang disampaikan oleh banyak orang baik dalam maupun luar negeri, Angkie dapat menjadi ikon bagi seorang pribadi yang menginspirasi. Bahkan melalui bukunya, Angkie menyatakan “bahwa hidup tidak semudah yang kita harapkan. Masalah selalu timbul setiap saat, tapi justru masalah yang membuat kita bijak dalam menghadapi masa depan.” Sederhana.. bahkan kita terlalu sering di doktrin ungkapan serupa, namun masalahnya justru terletak pada tataran melakukannya. Mandeg!

Inspirasi dan Realiti.

Akhir-akhir ini, kata “inspirasi” seringkali kita dengar. Motivator menjadi sumber inspirasi. Talkshow di setting meyakinkan untuk menjadi inspirasi. Bahkan Inspirasi Indonesia menjadi statement positioning bagi sebuah stasiun televisi. Dari mana datangnya inpirasi? dari mimpi? dari realiti? Atau justru inspirasi adalah mimpi yang menjadi realiti?

Banyak definisi yang dikemukakan, yang paling mudah misalnya melalui search engine. Macam-macam definisnya, mulai dari inspirasi adalah kualitas hidup, percikan ide kreatif, hasil dari rajin mengamati dan berfikir panjang, hingga secercah cahaya pendorong niat dan perbuatan. Inilah pemaknaan tiap orang, membuktikan bukan hanya manusia adalah homo sapiens yang diidentikkan pintar, juga menunjukkan bukti kebesaran Tuhan, betapa tiap manusia memiliki karakteristik yang unik, karena pemaknaan tiap individu berbasis pada Frame of Reference dan Field of Experience nya, tentu saja dengan seizin Allah.

Kembali lagi kepada sosok Angkie, yang diberikan talenta luar biasa, dan dengan kesadaran atas keterbatasannya yang kurang bisa mendengar, Angkie meyakinkan sekitarnya bahwa pada prinsipnya, manusia memiliki kelebihan yang tak terbatas, dimulai dengan lengkungan sederhana di bibirnya, sedekahnya kepada insan lainnya. Senyum. Yang kemudian dapat membangkitkan semangat banyak orang, karena sungging senyum itu menjadi refleksi bagaimana sosok Angkie yang sesungguhnya 

Angkie mampu menunjukkan dirinya, atau dalam teori Maslow, Angkie melesat menuju aktualisasi diri, sebagai hirarki tertinggi dalam tingkat kebutuhan manusia. Ia dapat menjadi sosok inspirasi bagi orang yang memiliki kesamaan dengannya, namun tidak menutup kemungkinan dirinya juga menjadi inspirasi bagi manusia yang secara fisik normal, yang seharusnya dapat lebih terpacu, minimal dengan “stop complaining for everything”.

Inspirasi dan Realiti, bisa jadi dua hal yang berbeda. Namun, inspirasi idealnya diwujudkan dalam realiti hidup. Bukan menjadi katalis saja dalam bertindak, melainkan kita dapat me- re-inspirasi pula bagi orang sekitar. Ibarat Multi Level Marketing, bisa kita mulai dengan target diri yang berkembang dan menular bagi downline seterusnya..

Angkie Yudistia menjadi sebuah contoh, bahwa dirinya menjadi inspirasi dan mewujudkannya dalam realiti, bukan hanya bagi dirinya, namun bagi dunia. Dan yakinlah, InsyaAllah kita juga bisa…Amiin.

Nasionalisme. Punyakah Kita?

Standard

Nasionalisme. Sebuah kata sakti untuk menunjukkan kecintaan individu pada tanah airnya. Menjadi sebuah bukti kebanggan individu akan status kewarganegaraannya. Atau justru menjadi sebuah impian ataupun ideologi yang ternyata memiliki tingkat abstraksi tinggi, bahkan cenderung absurd.

Seseorang yang membela negaranya, disebut sebagai nasionalis. Orang yang mengibarkan bendera di depan rumahnya takkala peringatan hari kemerdekaan pun disebut sebagai nasionalis. Bahkan, ketika “kewajiban” mengenakan batik bagi PNS di tiap hari Jum’at, pun… disebut sebagai perwujudan bahwa kita adalah negara yang memiliki warga negara nasionalis!

Banyak sekali simbol-simbol komunikasi yang dapat mengidentikasikan diri kita menjadi nasionalis. Atau tidak nasionalis. Simbol-simbol itu, kadang kita elu-elukan sebagai sebuah pembeda kita dengan bangsa lain, yang konon katanya tidak memiliki kebudayaan setinggi Indonesia. Hmm.. ini hal lain yang bisa dipertanyakan kembali, tapi lain kali saja. Karena, kali ini, saya sedang tergelitik dengan nasionalisme! Bukan apa-apa, trigger ini muncul pasca menonton pertandingan sepak bola antara Indonesia dengan Inter Milan di Gelora Bung Karno pada 26 Mei 2012 lalu.

Ironis. Atau saya berani mengatakan, kita tidak nasionalis. ketika team favorit dari Italia, datang dan bertanding dengan saudara sebangsa, kita justru lebih mendukungnya. Terbukti dari hampir seluruh penonton menggunakan kaos berwarna biru, atribut inter milan (kalo boleh dibilang diantara 100 orang, 2 orang pake baju merah putih). Simbol yang sederhana, namun sebenarnya mengoyak konsep nasionalisme, pelajaran PPKN, dan mata kuliah Kewarganegaraan, apalagi tentang wawasan kebangsaan yang selalu di doktrin oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Tapi, yah… apa mau dikata, apabila, kita lebih suka dan bangga untuk cinta dengan team favorit dari pada team negara yang (kurang) favorit. Gemuruh sorak sorai untuk team inter milan jauh lebih membahana daripada sorak sorai untuk team Indonesia…. padahal, lebih mudah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dari pada yel-yel Italia….

Nasionalisme, menjadi isu yang strategis, bila berkenaan dengan pertahanan dan keamanan (hankam) negara. Benar kiranya, bila masalah hankam ini tidak harus melulu berbicara tentang militer. karena masalah hankam, juga dapat dilihat dari perspektif yang lain, mulai dari budaya, bahasa, tata kehidupan, pranata sosial, bahkan nonton bola… Tapi, sepertinya semua bagai angin lalu ketika terbentur pada cerita Era Globalisasi….

Apakah saya tidak setuju dengan pasar bebas atau konsep global villlage?
Bukan… bukan itu maksud saya… kali ini tulisan saya hanya sedang merenung… dan bertanya….
nasionalime? apakah kita benar-benar memilikinya?
Benarkah bahwa kita sungguh-sungguh mencintai negara ini?

*Just a part of my journey of life seeing my surrounding….

Propaganda Ujian

Standard

Ibarat propaganda ketika ujian….

Posisi menentukan prestasi… ada gula ada semut, dimana si pintar duduk, maka kursi kiri, kanan, depan, belakang, pasti sudah tersirat ‘reserved’. Dengan metode quick count, pojok belakang kiri maupun kanan bisa jadi kursi pilihan terbanyak . Ataupun bila posisi tadi sudah “terpenuhi”, maka aksi bunglon siap dilakukan meski posisi di depan, tengah, atau dimanapun, memperhitungkan sudut pandangan dari meja pengawas, salinan materi yang minimalis sudah siap. Minimalis maksudnya font ukuran 3-4, spasi 1, sobekan A4 menjadi 25 bagian, dan pasang muka serius nan lugu, maka kita jadi peserta ujian yang nyaris tak terlihat bagi pengawas.

Barusan itu, strategi peserta ujian mengimplementasikan kebijakan propaganda ujian. Ada pula jargon bagi pengawas ujian bahwa Prestasi pengawas ujian adalah ketika “menangkap contekan”. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada si tukang contek, saya gunakan personifikasi tersebut.

Beberapa kali saya menangkap contekan. Modusnya macam-macam, selain modus klasik bikin salinan mini materi tadi. Ada yang menulisnya di balik kartu ujian, di kertas double folio yang sama dengan lembar jawaban, di tangan, di dinding dekat kursi, di kursi duduk, bahkan di whiteboard sekalipun. Kalau yang terakhir ini, sewaktu saya ngawas ujian statistik. Rumus simpangan baku terpampang jelas di papan. Meski saya ga pintar-pintar amat dengan statistik, tapi sedikit tau bahwa itu rumusnya. Contekan berjamaah..😉

Notabene menangkap contekan, saya tetap tidak bisa melihatnya sebagai sebuah prestasi. Setiap saya minta baik-baik contekannya, si tukang contek akan berkelat kelit dan silat lidah menyimpan contekannya. EQ saya kadang diuji. Karena ada yang menyertai dengan dusta kata atau transmisi pesan non verbalnya yang mengatakan, ”swear, bu.. ga ada nyontek!”. Hah?

Bisa saja sebenarnya saya duduk manis di depan, atau baca koran, ngobrol dengan pengawas lainnya, atau saya SMS an saja sebagai upaya penyelamatan mati gaya daripada tensi naik untuk strategi menangkap si tukang contek. Tapi, kok kayaknya ada yang salah dengan hal tersebut…apa ya? Tidak menjalankan tugas? Gak juga. Atau saya terlalu serius jadi pengawas? Haha… sepertinya tidak juga… Barangkali ada dua alasan untuk menjadi pengawas yang menyebalkan versi peserta ujian. Mau tau???Mau tau…??? Aha.. !!!

Pertama, saya selalu ngantuk kalau duduk saja tanpa melakukan sesuatu, makanya kalaupun saya duduk di depan, pasti ada yang saya utak atik, baca absen sampai-sampai saya hampir hapal nama lengkap peserta ujian. lantas saya uji ingatan saya dengan melihat dimana si ini , dimana si itu. Iseng banget? Makanya kalau lelah begitu, saya berdiri dan mulai ”bergerak”. Hohoo..

Kedua, saya suka membaca gestural peserta ujian. Sebagai sebuah pelajaran ilmu komunikasi bagi saya untuk memahami pesan non verbal mereka. Membuktikan kata pakar komunikasi bahwa pesan non verbal tidak bisa berbohong. Dan iya, ada gestural yang selalu sama bagi para tukang contek. Itu yang selalu saya katakan kepada mahasiswa saya, bahwa saya bisa belajar banyak dari mereka, termasuk juga oknum pencontek . Ups..

Ketiga, saya suka saja jadi pengawas ujian…hahaa.. Ga perlu alasan😉

Sekali lagi, ibarat propaganda dan jargon kala ujian…
Posisi Menentukan Prestasi? Atau Posisi Pengawas Menentukan Prestasi? Ada baiknya mulai berfikir, Prestasi Menentukan Posisi, bukan hanya untuk saat ini, tapi juga nanti… Nilai yang diperoleh nihil harganya bila diperoleh melalui contekan, dan bisa menjadi aib seumur-umur, karena bisa jadi kita menjadi orang yang tidak akan pernah dipercaya untuk setiap karya yang coba kita buat kelak. Dan tragisnya, meskipun pengawas ujian tak melihat, batin Anda pasti berkata, “nilai ini saya dapat karena mencontek..nilai itu saya dapat karena tak jujur..dan saya malu karenanya”.

Wallahu’alam..

Bermimpi Menjadi Peserta Kuis di Televisi

Standard

Acara kuis bergulir tanpa henti di televisi kita. Tidak ada yang tidak menyajikan hadiah yang menggiurkan bahkan hanya sekedar kuis untuk anak-anak. Demikian maraknya acara kuis ditelevisi menjual berbagai impian pemirsa untuk memiliki hadiah-hadiah yang ditawarkan, dan itu tentu saja dapat terjadi bila pemirsa menjadi peserta kuis. Padahal, disadari atau tidak, bentuk kuis-kuis di televisi kita cenderung mengarah kepada perjudian.

Perjudian merupakan pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang diangap bernilai,dengan menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlmbaan dan kejadian-kejadian yang tidak/belum pasti hasilnya. Menurut Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 303 ayat 3, main judi itu berarti tiap-tiap permainan yang kemungkinanya akan menang pada umumnya tergantung pada untung-untungan saja; juga kalau kemungkinan bertambah besar, karena pemain lebih pandai atau lebih cakap. Main judi mengandung juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau main itu, demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Kecenderungan untuk melakukan perjudian sudah ada sejak manusia memulai peradabannya. menurutKartini Kartono dalam bukunya Patologi Sosial, pada mulanya perjudian itu berwujud permain atau kesibukan pengisi waktu senggang guna menghibur hati jadi sifatnya rekreatif dan netral. Pada sifat yang netral ini, lambat laun ditambahkan unsur baru untuk merangsang kegairahan bermain dan menaikkan ketegangan serta pengharapan untuk menang, yaitu barang taruhan, berupa uang, benda, atau sesuatu tindakan yang bernilai. Kini, seiring dengan kemajuan zaman, perjudian sudah merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan, dan kini penyebarannya pun kian “canggih” melalui komunikasi massa.

Komunikasi massa merupakan komunikasi melalui media massa, yakni surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film. Media massa menempati posisi yang demikian penting di masyarakat sekarang ini. Peranan media massa tidak dapat dipisahkan dari fungsinya untuk memenuhi kebutuhan akan pengawasan lingkungan , hubungan sosial , hiburan , dan transmisi kultural. Sebagai wadah yang mampu menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya, media massa menyajikan berbagai informasi yang bersangkutan dengan masyarakat itu sendiri.
Televisi, sebagai salah satu media massa yang populer di masyarakat, memiliki karakteristik tertentu . Karakteristiknya, seperti isi pesan audiovisual yang dapat dilihat dan didengar , menjadikannnya lebih unggul dibandingkan dengan media massa lainnya.

Pelaku perjudian melihat peluang yang menggiurkan di balik mudahnya akses televisi ke rumah pemirsa. Dengan iming-iming jutaan rupiah, mobil, rumah, atau hanya sekedar hadiah hiburan berupa sepatu cukup membuat pemirsa menggantungkan impian menjadi peserta kuis.
Memang, tampilan kuis yang memikat ditambah bintang tamu artis akan membuat pemirsa tertarik, belum lagi kuis-kuis yang disajikan relatif mudah, hanya menebak gambar, mengingat angka, menjawab benar atau salah, hingga hanya sekedar diam pun akan mendapatkan hadiah. Bentuk-bentuk “kemudahan” ini akan membuat masyarakat terlena dan dampaknya, kemauan kerja keras menjadi kurang karena mengharapkan dirinya menjadi peserta kuis.

Dampak perjudian seperti ini lambat laun akan mempengaruhi kelangsungan hidup negara, karena warga negaranya sibuk dengan permainan judi yang menghabiskan bukan hanya waktu, namun juga kemampuan fisik dan mental, materi dan non materi. Masyakat kita akan cenderung menjadi malas dan terus menunggu giliran menjadi peserta kuis.
Hidup manusia memang penuh dengan faktor spekulasi. Spekulasi yaitu kemungkian mendapatkan untung atau rugi berperan penting dalam aktivitas manusia. Jika dalam usaha tadi ada unsur untung-untungan melulu, maka aktivitas itu disebut judi. Lalu bagaimana membedakan dan menempatkan spekulasi yang benar sehingga tidak terjerumus menjadi judi ?

Dalam menjalankan segala aktivitas, manusia selalu dihadapkan pada dua pilihan; menang atau kalah, benar atau salah, untung atau rugi, dan dikotomi lainnya yang tidak dapat dipisahkan. Penempatan spekulasi yang benar, bila kita menjalani suatu aktivitas untuk mencapai suatu tujuan, kita memperhitungkannya dengan kalkulasi rasional dan data faktual, serta mempertimbangkan akibat-akibatnya bila kita memilih sesuatu dan bukan yang lainnya.

Perjudian di televisi memang agak “terselubung”, karena mengedepankan unsur hiburan dan pengisi waktu bagi pemirsa. Bagi peserta kuis hanya ditambah faktor hadiah sebagai “reward” karena turut berpartisipasi dalam acara kuis. Pengelola kuis dan stasiun televisi pasti menolak bila divonis telah melakukan pelegalan perjudian. Dan hebatnya lagi, kita pun merasa itu hanya tayangan yang menghibur karena menyaksikan peserta kuis bertarung memperebutkan hadiah.

Sebenarnya timbul pertanyaan di benak kita, apakah stasiun televisi “sengaja” menyajikan acara kuis itu untuk mengenalkan agenda perjudian sebagai sesuatu yang wajar dan pasti berlangsung seiring dengan nafsu manusia yang tidak penah puas dengan apa yang dimiliki? Apakah televisi sedang melakukan “agenda setting”, untuk melegalkan perjudian? Segala keputusan kembali kepada kita bagaimana kita mencermati tayangan kuis di televisi, sebagai hiburan belaka, atau akan terus bermimpi untuk menjadi peserta kuis.
—————–

Agenda Setting Model

Standard

Agenda setting dikembangkan oleh Maxwell E. McComb dan Donald L. Shaw. Agenda Setting model memperbaharui penelitian efek yang diabaikan oleh model Uses and Gratification. Agenda setting memusatkan perhatian pada efek media massa terhadap pengetahuan. Dengan perkataan lain, fokus perhatian bergeser dari afektif ke kognitif.

Menurut teori ini, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk mengubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Pendeknya, media massa memilih informasi yang dikehendaki dan berdasarkan informasi yang diterima, khalayak membentuk persepsinya tentang berbagai peristiwa.
Bernard Cohen berhasil menyimpulkan model agenda setting dengan dua kalimat sebagai berikut: “ It may not be successful much on the time in telling people what to think but it is stunningly successful in telling its readers what to think about (Cohen 1963:13 dalam Rakhmat, 1999:200)

Teori agenda setting dimulai dengan suatu asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang hendak disiarkannya. Secara selektif, gatekeepers seperti penyunting, redaksi, bahwkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan bagimana media menyajikan peristiwa, itulah yang disebut sebagai agenda media.

Karena pembaca, pemirsa, pendengar memperoleh kebanyakan informasi melalui media massa, maka agenda media tentu berkaitan dengan agenda masyarakat (publik agenda). Agenda masyarakat diketahui dengan menanyakan kepada anggota masyarakat apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka bicarakan dengan orang lain, atau apa yang mereka anggap sebagai masalah yang tengah menarik perhatian masyarakat (community salience) (Rakhmat, 1999:229-230).

Bila media massa terbukti sanggup membentuk citra orang tentang lingkungan dengan menyampaikan informasi, kita juga dapat menduga media massa tertentu berperan juga dalam menyampaikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang baik.(Eriyanto, 1999:230). Setiap masyarakat mempunyai serangkaian penjelasan tentang realitas, yang merupakan gambaraan terpadu dan homogen tentang apa yang ada, apa yang penting, apa berhubungan dengan apa, dan apa yang benar. Setiap masyarakat berusaha menanamkan sejenis peraturan yang menetapkan apa yang boleh dan tidak. Peraturan ini disebut ideology. Ideology itu melahirkan dirinya dalam bentuk teks, pesan-pesan yang diproduksi lembaga-lembaga social dan tampak pada proses komunikasi.(Rakhmat, 1999:249).

Sementara itu, Manheim dalam pemikirannya mengenai konseptualisasi agenda yang potensial untuk memahami proses agenda setting meliputi tiga agenda, yaitu agenda media, agenda khlayak, dan agenda kebijaksanan. Masing-masing agenda itu mencakup dimensi-dimensi berikut:
1. Untuk agenda media, dimensi-dimensi:
a. Visibility (visibilitas) yaitu jumlah dan tingkat menonjolnya berita.
b. Audience salience yaitu relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak
c. Valence yaitu menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa

2. Untuk agenda khalayak, dimensi-dimensi:
a. Familiarity yaitu derajat kesadaran khalayak akan topic tertentu
b. Personal Salience yaitu relevansi kepentingan dengan ciri pribadi
c. Favorability yaitu pertimbangan senang atau tidak senang terhadap topik berita

3. Untuk agenda kebijaksanaan, dimensi-dimensi:
a. Support yaitu kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu
b. Likekihood of action yaitu kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan.
c. Freedom of action yaitu nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah.

Konsep Manheim tersebut mendukung perkembangan teori agenda setting secara menyeluruh (Manhein dalam Servin dan Tankard, Jr. 1992:226 dalam Effendy,1993, 188-189). Pihak media memang sering menilai dirinya sebagai refleksi masyarakat, yang menampilkan gambaran masyarakat secara lebih jelas dan memungkinkan unsur-unsur dalam masyarakat mengekspresikan dirinya kedalam segenap anggota masyarakat. Konsep media sebagai penyaring telah diakui masyarakat, karena media seringkali melakukan seleksi dan penafsiran terhadap suatu masalah. (McQuail, 1987: 53).

Referensi
Effendy, Onong U. 1981. Dimensi-Dimensi Komunikasi. Alumni, Bandung.
McQuail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta
Rakhmat, Jalaluddin. 1999. Psikologi Komunikasi. Remaja Rosdakarya, Bandung.