Paham Gender Dan Sikap Individualis Dalam Komunikasi Antar Pribadi

Standard

Komunikasi di masyarakat perkotaan, menjadi pusat perhatian ketika membahas masalah gender. Gender berasal dari bahasa Latin, yaitu “genus”, berarti tipe atau jenis Gender merupakan kajian tentang tingkah laku  perempuan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Karena dibentuk oleh sosial dan budaya setempat, maka gender tidak berlaku selamanya tergantung kepada waktu (tren) dan tempatnya. Gender juga sangat tergantung kepada tempat atau wilayah. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Ini disebabkan yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminim dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminim itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin.

Dalam terminologi feminis, gender sendiri didefinisikan sebagai perbedaan perilaku (behavioral differences) atau sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. Karena itu, gender juga sering disebut sebagai ‘jenis kelamin sosial’. Dari definisi ini, dalam persepsi feminisme, gender hanya merupakan produk budaya (nurture), bukan alami (nature), yakni sekadar ‘hasil persepsi’ suatu masyarakat atau bahkan bisa jadi hanya mitos atas apa yang disebut dengan sifat paten (kodrat) laki-laki dan sifat paten (kodrat) perempuan.

Karena merupakan produk budaya, menurut pengusungnya, gender dapat dipertukarkan dan bersifat tidak permanen, yakni dapat berubah sejalan dengan perubahan paradigma berpikir yang menjadi landasan budaya masyarakat tersebut. Berdasarkan kerangka berpikir ini, para pemujanya kemudian menolak konsep pembagian peran sosial yang dikaitkan dengan perbedaan biologis. Tidak boleh, misalnya, hanya karena secara biologis perempuan punya rahim dan payudara, kemudian dipersepsikan bahwa hanya perempuan yang memiliki sifat-sifat keperempuanan (feminitas) seperti sifat lembut, keibuan, dan emosional sehingga secara kodrati perempuan harus menjalani fungsi-fungsi keibuan dan kerumahtanggaan. Tidak boleh pula, laki-laki yang dianggap lahir dengan sifat-sifat maskulinitasnya, lalu diarahkan untuk menjadi pemimpin atas kaum perempuan.

Bagi mereka, persepsi-persepsi seperti ini muncul lebih disebabkan faktor budaya yang berpengaruh terhadap pembentukan konsep gender itu sendiri di tengah-tengah masyarakat. Kebetulan, kata mereka, saat ini budaya masyarakat sedang didominasi kultur patriarkal yang menempatkan posisi laki-laki lebih superior dibandingkan perempuan. Budaya seperti ini kemudian dianggap bertanggungjawab melahirkan ‘mitos-mitos peran gender yang merugikan kaum perempuan’, termasuk peran perempuan sebagai ibu yang mereka pandang ‘tidak strategis’ dan ‘tidak produktif’.

Karena dianggap merugikan, mereka berobsesi untuk mengubah masyarakat yang patriarki ini menjadi masyarakat berkesetaraan, baik melalui perubahan secara kultural (seperti melalui perubahan pola pendidikan dan pengasuhan anak, perubahan ‘persepsi’ keagamaan yang dianggap bias gender, dan lain-lain) maupun secara struktural (melalui perubahan kebijakan). Mereka berharap, ketika suatu saat masyarakat bisa memandang perempuan sebagai manusia (bukan atas dasar kelamin), maka pembagian peran sosial (domestik vis a vis publik) akan cair dengan sendirinya. Artinya, semua orang akan mampu berkiprah dalam bidang apapun yang diinginkannya tanpa harus khawatir dianggap menyalahi kodrat.

Selama ini kesalahan persepsi tentang gender yang dipengaruhi budaya patriarki ini telah begitu berpengaruh tidak hanya dalam membangun, tetapi juga dalam mengontrol berbagai bentuk interaksi antara laki-laki dan perempuan secara tidak seimbang, terutama menyangkut peran mereka di dalam masyarakat: laki-laki diposisikan lebih serta punya power dan bargaining yang tinggi di hadapan perempuan; sementara kaum perempuan terpuruk di posisi-posisi rendah yang tak menjanjikan, serba dilematis, serba lemah, dan bahkan ‘terpaksa’ hidup dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada laki-laki sehingga layak diperlakukan secara semena-mena dan layak menjadi pihak yang dikorbankan.

Munculnya cara berpikir seperti ini sesungguhnya dipengaruhi oleh prinsip individualisme yang inheren dalam pemikiran demokrasi, yang menganggap bahwa masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang merdeka, dengan laki-laki di satu sisi dan perempuan di sisi lain. Prinsip ini telah menempatkan diri, ego, jenis, dan kelompok sebagai sumber orientasi. Secara harfiah individualisme merupakan suatu ajaran yang memberikan nilai utama pribadi, sehingga masyarakat hanyalah sebagai suatu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi. Dalam sistem hukum Belanda hak perorangan dinamakan “Hak Eigendom” dimana Eigem/orang-nya dapat berbuat apa saja semaunya selama tidak bertentangan dengan undang-undang atau hak-hak orang lain.

Dalam kehidupan yang individualis dan pemahaman gender yang bias inilah, komunikasi antar pribadi di masyarakat perkotaan melibatkan komunikasi verbal dengan pemilihan kata dan bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi pola komunikasi kita. Demikian juga bagaimana non verbal kita dapat ”mengkomunikasikan” banyak hal. Bagaimana keefektifan bahasa sebagai sarana komunikasi akan berperan dalam penyampaian gagasan, pikiran, dan perasaan sudah terbukti dan tak perlu lagi diperdebatkan. Namun, yang perlu diingat, bahasa yang baik tidak saja karena konstruksi tata bahasanya benar, tetapi juga karena disampaikan dengan cara yang tepat, sesuai dengan situasi, kondisi, dan sasarannya.

Dalam masyarakat perkotaan, bagaimana orang berkomunikasi antara satu dengan lainnya, dan bagaimana proses interaksi dan proses sosial yang terjadi, sangat tergantung dari norma-norma masyarakatnya. Perbedaan itu mungkin ada perbedaan budaya atau antar lawan jenis. Menurut Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan staf pengajar di FIB-UI, pemerolehan berbahasa yang santun tidak dengan serta-merta dapat dilakukan dan didapatkan oleh seseorang. Sebab, kebiasaan sejak dini dan lingkungan sosial masyarakat akan banyak menentukan pola berbahasa seseorang.

Akan tetapi, karena norma di dalam masyarakat sebaliknya juga dibentuk dalam proses komunikasi, maka struktur komunikasi dapat mencerminkan bagaimana norma serta proses pembentukan norma terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Sekaligus diperlihatkan bagaimana proses sosial dan bagaimana struktur sosialnya. Struktur komunikasi merupakan suatu sistem yang terbentuk dengan sendirinya dalam proses komunikasi antar personal yaitu apabila proses komunikasi cukup lama berlangsung menurut norma-norma tertentu,serta memberi efek-ekfek tertentu. Dalam hal ini, di masyarakat perkotaan, yang individualis cenderung menganut norma-norma yang minim bersosialisasi dengan orang lain. Ibarat kata, bagaimana mau berkomunikasi dengan baik, toh bertemu saja jarang.

Dalam masyarakat perkotaan yang memiliki alur hidup serba cepat dan sikap individualistis yang tinggi, komunikasi yang terjadi dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari diwujudkan dengan komunikasi antar pribadi manusia, yang tidak dapat dipisahkan daripada komunikasi laki-laki dan perempuan. Komunikasi tidak hanya sebagai proses dengan mana kita belajar untuk mempertukarkan makna, tapi juga untuk saling kesepahaman antara lelaki dan wanita.

Perbedaan ruang yang diberikan kepada wanita dan lelaki adalah merefleksikan peran gender dalam lingkup social. Olehnya, wanita adalah lebih kecil dibanding lelaki dalam masalah kepemilikan ruang dan dalam rumah di dalam rumah-rumah keluarga mereka, termasuk dalam sistem masyarakat perkotaan yang masih menomorduakan peran wanita. Dalam dunia kerja perbedaan keduanya begitu nyata, misalnya wanita biasanya cukup menjadi sekretaris saja, yang memiliki ruang yang begitu sempit dibanding dengan peran-peran yang dimiliki oleh lelaki, ataupun misalnya dengan sebutan-sebutan seperti chairman bukan dengan chairwoman. Wanita dan lelaki dibesarkan di dalam suasana budaya yang berbeda (intercultural communication). Dengan demikian mereka memiliki gaya bicara yang berbeda pula. Perbedaan-perbedaan ini, kalau sedini mungkin tidak dipahami oleh kedua pihak, sudah pasti akan menimbulkan kesemrawutan komunikasi.

Pemahaman gender dalam komunikasi menjadi sangat penting. Kesalahan dalam menginterpretasikan pesan yang dikirim oleh wanita kepada laki-laki atau sebaliknya, akan sangat berbahaya. Teori perbedaan gender, yang diutarakan oleh Deborah Frances Tannen, adalah lahir karena adanya kenyataan bahwa terdapat pola, style dan konteks yang tidak sama antara laki-laki dan perempuan. Gender Differences Theory atau teori perbedaan gender (TPG) berangkat dari sebuah pemahaman bahwa antara laki-laki dan perempuan tumbuh dan berkembang dalam kondisi lingkungan, bahasa dan budaya yang berbeda, sehingga akan menampilkan gaya bicara atau berkomunikasi yang berbeda pula. TPG menyiratkan agar keduanya, wanita dan laki-laki tidak bisa saling menyalahkan akibat perbedaan gaya komunikasi tersebut, melainkan harus saling memahami.

Dalam komunikasi antar personal, banyak sekali perbedaan yang bisa didapat dalam komunikasi akibat perbedaan gender. Perempuan misalnya, memiliki sifat-sifat suka berbicara panjang lebar, membangun relasi, simetri dan gemar membicarakan hal-hal yang sifatnya pribadi. Sebaliknya, seorang lelaki adalah bicaranya hanya simpel-simpel saja, berkisar pada hal-hal umum tidak pribadi, tidak basa-basi, menunjukan statis/tawar menawar, dan asimetri.

Sejak awal wanita dan pria sudah diajarkan dengan perbedaan bahasa. Tingkah laku komunikasi ini bisa diterima oleh seorang laki-laki, misalnya dengan mehamami karena ada perbedaan dengan seorang wanita. Karenanya, penelitian menunjukan wanita-wanita mengalami diskriminasi bahasa dalam dua hal. Pertama, di dalam cara mereka diajar untuk menggunakan bahasa, dan kedua, di dalam pemakaian bahasa dalam memperlakukan mereka.

Penggunaan bahasa yang digunakan antara laki-laki dan wanita relatif berbeda. Ini menyebabkan pola komunikasi antar pribadi baik dari wanita ke wanita, dari pria ke pria, dari wanita ke pria, dan sebaliknya sangat berbeda. Hal ini karena kehidupan masyarakat perkotaan, yang walaupun bersifat terbuka, namun berimplementasi yang salah yang disebabkan oleh pengaruh faktor sejarah, lingkungan budaya dan tradisi yang patriarkat didalam masyarakat, sehingga menimbulkan sikap dan prilaku individual yang secara turun-temurun menentukan status kaum perempuan dan ketimpangan gender tersebut. Hal inilah yang kemudian menimbulkan mitos-mitos salah yang disebarkan melalui nilai-nilai yang keliru mengenai keunggulan kaum lelaki dan melemahkan kaum perempuan. Dan harus kita akui, kehidupan masyarakat perkotaan di Indonesia menganut sistem patriakal yang kuat. Sistem inilah yang menjadi alasan kaum feminis untuk terus mengusung paham kesetaraan gender, yang sesungguhnya merupakan perwujudan individualisme masyarakat perkotaan yang berlebihan.

Referensi

Bouman, P.J. 1965. Ilmu Masyarakat Umum. PT pembangunan. Jakarta.

—————–. 1982.Sosiologi Fundamental. Penerbit Djambatan. Bandung.

Daldjoeni, N. 1982. Seluk Beluk Masyarakat Kota. Penerbit: Alumni. Bandung.

Devito, Joseph,. A. 1997. Komunikasi Antarmanusia Edisi Kelima,. Penerjemah, Agus Maulana. Jakarta, Profesional Books.

Fisher, B Aubrey, 1986. Teori-Teori Komunikasi. Penerjemah Soejono Trimo. ML. Bandung. Remaja Rosdakarya

Harsojo. 1967. Pengantar Antropologi. Penerbit: Binacipta. Jakarta.

Kartono, Kartini. 1988. Patologi Sosial. CV Rajawali. Jakarta.

Keenan Kate. 1996. The Management Guide to Communicating. Golden Books Centre SDN. BHD. Kuala Lumpur.

Littlejohn, Stephen W & Foss. Theories of Human, Communication, 8th. Belmont, California, Wadswoth.

Miller, Katherine. 2001. Communication Theories, perspective, Processes and Contexts. A & M University Texas.

S. Susanto, Phil Astrid. 1980. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Binacipta. Jakarta.

Severin, Werner J, Tankard, James W. 2005. Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Kencana. Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 1977. Sosiologi Suatu Pengantar Cetakan Kelima. Yayasan Penerbit UI. Jakarta.

Tannen, Deborah. 2003. Kamu Memang Nggak Bakal Ngerti” Romantika Percakapan Wanita dan Pria. Qanita Mizan. Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antar-personal: 31 Mei 2007

http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/pengelolaceria/pp1gender.html : 4 Juni 2007

http://www.lbh-apik.or.id/fact%2054.htmlihat lembar info lainnya : 4 Juni 2007

http://www.hizbut-tahrir.or.id/index.php/2007/05/06/absurditas-kesetaraan-gender: 4 Juni 2007

http://www.acehinstitute.org/opini_zulfikar_hak_tanah-ulayat.htm: 4 Juni 2007

2 responses »

  1. sejak dulu saya emang ga pernah setuju dengan paham gender… dan sekarang, saya makin yakin, gender memang sebuah wujud “pencarian jati diri” kaum wanita yang belum mampu bersyukur terhadap kodrat wanita… Thanks ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s