Konstruksi Sosial Teori Penjulukan di Media Massa

Standard

Konstruksi sosial dari perilaku devians memegang peranan penting dalam proses melabel atau menjuluki yang terjadi di masyarakat. Proses ini tidak hanya melibatkan penjulukan pada perilaku kriminal devians, dimana perilakunya tidak sesuai dengan norma sosial, namun juga merefleksikan stereotipe dan stigmatisasi dari perilaku menyimpang.

Tampilan media masa yang mempresentasikan bagaimana seorang yang mendapat julukan sakit mental atau mengalami penyimpangan perilaku sangat tergantung pada bagaimana masyarakat memiliki persepsi tentang hal itu. Penggunaan media massa dalam memberikan julukan kepada seseorang sangat sering kita lihat sekarang ini dan bagaimana julukan tersebut memberikan pengaruh pada orang tersebut.

Satu peran yang pasti, yang dilakukan media massa dalam mengkonstruksi teori penjulukan ini adalah dengan mendramatisir penayangan ataupun informasi dengan menciptakan karakter perilaku menyimpang yang harus ditakuti ataupun justru dikasihani. Sehingga, media massa atau pers, berperan aktif dalam menyebarkan penjulukan tersebut. Pers merupakan lembaga kemasyarakatan dan merupakan sub sistem dari sistem kemasyarakatan dimana ia berada bersama-sama dengan sub sistem-sub sistem lainnya. Dengan demikian maka pers tidak hidup sendiri, melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Dengan posisi yang demikian pers selalu dituntut untuk objektif, apalagi utnuk mengetengahkan konflik-konflik yang sensitif sifatnya.

Menurut Olieb, Donahue, dan Tichenor, dalam situasi konflik, fungsi media massa adalah, pertama mengeliminasi konflik dan mengedepankan konsesus, serta kedua, yaitu untuk mengedepankan dan menonjolkan konflik Agaknya fungsi kedua inilah yang lebih tampak dianut oleh pers Indoesia sekarang. Tidak berlebihan bila posisi dan peran pers sekarang tengah berada dalam posisi watch dog (anjing penggonggong) dan bukan lagi sebagai guard dog (anjing penjaga) bagi penguasa seperti pada masa orde baru, dimana pers berfungsi utnuk meredam opini publik, melegitimasi keputusan politik penguasa, dan mementingkan kepentingan diri sendiri.

Media berperan penting dalam pembentukan, mobilisasi, dan pemeliharaan konflik antar kelompok. Peliputan atas isu, peristiwa, atau pelaku konflik mencerminkan distribusi kekuasaan dalam sistem sosial, khususnya kepentingan kelompok dominan dalam sistem sosial tersebut. Dalam konteks ini, secara selektif media berfungsi mempercepat, memperlambat, menjelaskan atau meredefinisikan konflik sosial. Berita yang disajikan pers, meskipun diklaim objektif, tetap saja mengandung bias. Karena bahasa itu sendiri (termasuk bahasa gambar) merupakan serangkaian pesan yang diciptakan oleh orang-orang yang juga pernah hidup dalam historisitas tertentu. Semua perangkat nilai yang telah mereka serap, ditambah kodisi fisiologis dan psikologis mereka yang situasional, turut mempengaruhi perumusan dan penyampaian berita.

Pada dasarnya bahasa(kata-kata) itu tdak netral. Di dalamnya terdapat muatan-muatan pribadi, sosio kultural atau ideologis meski bersifat subtil. Karena itu tidak ada berita yang objektif dalam pengertian murni atau mutlak. Berita merupakan rekonstruksi pikiran wartawan (institusi pers) mengenai suatu peristiwa atau pernyataan yang telah lewat. Wartawan atau redaksi akan memilih kata-kata tertentu untuk menyiratkan seseorang atau peristiwa. Namun, pada saat itu mereka juga “tidak objektif” dengan meniadakan sifat-sifat lain yang sebenarnya melekat pada orang atau peristiwa tersebut. Walhasil, berita juga adalah opini. Demikian juga penjulukan yang dilakukan pihak pers dalam bentuk kata-kata oleh media cetak atau gambar oleh media televisi. Narasi atau penjulukan tersebut akan ditafsirkan oleh pembaca atau pemirsa dengan cara mereka sendiri.

Opini publik yang terbentuk menurut para ahli adalah cermin dari stuktur sosial dan kebudayaan dari masyarakatnya. Opini publik bukan bagian dari realitas way of life masyarakatnya, bukan pula serpihan ideologi. Opini publik pun tidak dapat diidentifikasi sebagai sub sistem dari sistem kekuasaan, baik dalam arti power politics maupun dalam arti political power. Disinilah letak critical point (titik genting) dari pengertian opini publik pada umumnya. Sebab, jika di satu pihak opini publik itu sering ditafsirkan sebagai pendapat umum (public opinion), namun di lain pihak, opini publik tidak dianggap sama dengan kumpulan opini dari sejumlah individu. Penilaian demikian tentang opini publik merupakan terminal dan sekaligus memberikan peluang bagi penyebaran gagasan demokratis paling tidak di pengertian tadi, opini publik kemudian ditafsirkan sebagai hasil dialog dinamis dari sistem sosial di lingkungannya yang bukan hanya berlangsung terus menerus, tetapi juga terselenggara secara tebuka dan dinamis.

Seperti dikatakan Peter Dahlgren, realitas sosial menurut pandangan konstrukvis (fenomoenologis) setidaknya sebagian adalah produksi manusia, hasil proses budaya, termasuk penggunaan bahasa. Makna adalah suatu konstruksi, meskipun terkadang rentan dan muskil dan salah satu cara mendasar kita dalam menghasilkan makna mengenai dunia nyata adalah lewat media massa Peristiwa-peristiwa yang ditangkap media massa, berita sekalipun jelas bukan peristiwa sebenarnya, baik dilihat dari urutannya maupun durasinya.

Narasi media massa merupakan seleksi peristiwa yang sudah direproduksi dalam bentuk yang artifisial. Narasilah yang menghubungkan peristiwa sebenarnya dengan khalayak. Dan narasi tidak sekedar menyampaikan, melaiankan juga menciptakan makna. Julukan-julukan tertentu jelas merupakan salah satu pendefinisian untuk menciptakan ralitas baru mengenai peristiwa atau orang yang didefinisikan. Narasi disini meliputi bukan hanya bersifat fiksi atau jurnalistik, bahkan juga semu narasi yang diklaim sebagai objektif seperti dalam konteks hukum, medis, dan ilmiah sosial.

Pada saat seseorang telah tergantung pada hubungan-hubungan yang bersifat menyimpang dan mulai menggunakan tindakan menyimpang sebagai alat pelindung terhadap tekanan masyarakat konvensional yang menjuluki seseorang sebagai penyimpang, maka penyimpangan menjadi fokus perhatian utama reorgansasi perjalanan hidup orang itu. Berbagai studi penelitian yang menguji kebenaran teori penjulukan saling bertentangan dan tidak meyakinkan. Kebanyakan kelompok primer (kelompok yang anggotanya melakukan tindakan menyimpang) menolak untuk menyingkirkan anggota mereka yang menyimpang, mereka justru mencari jalan agar penyimpang tersebut dapat kembali menyesuaikan diri. Sementara kenyataan empiris menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu penjulukan mendorong timbulnya penjulukan selanjutnya.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa penjulukan kadang kala meningkatkan tetapi kadangkala juga mengurangi timbulnya penyimpangan. Dalam buku Raising A Happy Child, banyak ahli yang setuju, bahwa bagaimana seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri akan menjadi dasar orang tersebut beradaptasi sepanjang hidupnya. Anak yang memandang dirinya baik akan mendekati orang lain dengan rasa percaya dan memandang dunia sebagai tempat yang aman, dan kebutuhan-kebutuhannya akan terpenuhi. Sementara anak yang merasa dirinya tidak berharga, tidak dicintai akan cenderung memilih jalan yang mudah, tidak berani mengambil resiko dan tetap saja tidak berprestasi. Bagi banyak orang (termasuk anak-anak) pengalaman mendapatkan label tertentu (terutama yang negatif) memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Pemikiran bahwa dirinya ditolak dan kemudian dibarengi oleh penolakan yang sesungguhnya, dapat menghancurkan kemampuan berinteraksi, mengurangi rasa harga diri, dan berpengaruh negatif terhadap kinerja seseorang dalam kehidupan sosial dan kehidupan kerjanya.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Novel. 1999. Peradaban Komunikasi Politik Potret Manusia Indonesia. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Effendi, Onong U. 1981. Dimensi-Dimensi Komunikasi. Penerbit Alumni. Bandung.

Horton, paul B., & Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi. penyunting Aminudin Ram dan Titi Sobari .Penerbit Erlangga. Jakarta.

Horwitz & Scheid. A Handbook for the Study of Mental Health: Social Contexts, Theories, and Systems. Cambridge; New York, NY. 1999.

Link B.G. & Phelen J.C. The Labelling Theory of Mental Disorder (II): The Consequences of Labeling.dalam http://www.everything2.com/index.pl?node_id=784096

Mulyana, Deddy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Mulyana, Deddy. Komunikasi Populer Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer. 2004. Pustaka Bani Quraisy. Bandung.

Mulyana, Deddy. 1999.Nuansa-Nuansa Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Mulyana, Deddy. Makalah Teori Penjulukan Pers, Pers dan Konstruksi Sosial. Seminar Nasional ISKI. 2 Oktober 1999.

http://www.everything2.com/index.pl?node_id=784096: 25 April 2007 http://www.e-psikologi.com/anak/160502.htm: 25 April 2007 http://www.hewett.norfolk.sch..uk/curric/soc/crime/labeling.htm: 27 April 2007 http://en.wikipedia.org/wiki/labeling_theory: 27 April 2007 http://faculty.ncwc.edu/toconnor/301/301lect12.htm :27 April 2007 http://bitbucket.icaap.org : 3 Mei 2007 http://www.sparknotes.com.psycholoy/abnormal/intro/labelingtheory.html-24 : 3 Mei 2007

http://www.freeessays.cc/db/44/smu105.shtml : 3 Mei 2007 http://www.d.umn.edu/cla/faculty/hamlin/2311/labeling.html: 4 Mei 2007 http://www.rci.rutgers.edu : 4 Mei 2007 http://www.bookrags.com/wiki/Labeling_theory: 4 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s