Prostitusi Sebagai Bagian Kehidupan Kota

Standard

Prostitusi kini dipandang sebagai hal yang sangat biasa di perkotaan terutama di kota-kota besar yang kini cenderung mengalami dekadensi moral sebagai akibat kedinamisan manusia seiring denga perkembangan zaman. Kecenderungan ini tercipta karena bentukan kepribadian kota yang bercorak social daripad strukturnya yang azasi pada individu. Kepribadian menurut organisasi rohani tertentu yang bertalian denagn aneka struktur dab sistem jiwani serta manifestasi mental.

Kepribadian sebagai gejala sosial nampak pada perilau sosial, gagasan dan norma yang berlaku umum. Berlangsungnya perubahan-perubahan sosial yang serba cepat dan perkembangan yang tidak sama dalam kebudayaan, mengakibatkan ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri, mengakibatkan timbulnya disharmoni, konflik-konflik eksternal dan internal, juga disorganisasi dalam masyarakat dan dalam diri pribadi.

Peristiwa-peristiwa terebut diatas memudahkan pola-pola responsi/reaksi yang menyimpang dari pola-pola umum yang berlaku. Dalam hal ini ada pola prostitusi, untuk mempertahankan hidup di tengah-tengan hiruk pilkuk alam pembangunan, khususnya Indonesia.

Dekadensi moral atau merosotnya nilai-nilai moral yang dipegang masyarakat kota turut memicu berkembangnya prostitusi. Bertemunya macam-macam kebudayaan asing dan kebudayaan setempat di daerah perkotaan meyebabkan perubahan sosial yang cepat dan radikal sehingga masyarakatnya menjadi cenderung instabil (tidak stabil). Terjadi banyak konflik dan kurang aadnya konsensus mengenai norma-norma kesusilaan diantara para anggota masyarakat.

Kondisi sosial jadi terpecah-pecah sedemikian rupa, sehingga timbul suatu masyarakat yang tidak bisa diintegrasiikan. Terjadilah disorganisasi sosial, sehingga mengakibatkan breakdown (kepatahan pada kontrol sosial). Tradisi dan norma-norma dilanggar, maka tidak sedikit wanita-wanita muda yang mengalami disorganisasi pribadi, dan secara elementer bertingkah laku semau sendiri memenuhi kebutuhan seks dan kebutuhan hidupnya dengan jalan melacurkan diri.

Individu-individu perkotaan mulai menjalani suatu kehidupan yang penuh hedonisme, yaitu suatu paham yangmenguitamakan kesenangan dalam menjalani hidup. Aristippos (433-355 SM) yang mencetuskan paham ini, adalah seorang murid Socrates, filsuf besar dari Yunani. Aristippos mengatakan bahwa manusia harus membatasi diri dengan kesenangan yang dapat diperoleh dengan mudah dan tidak perlu mengupayakan atau mengusahakan mendapatkan kesenangan dengan cara susah payah dan penuh kerja keras. Pandangan semacam ini dapat menjadi inspirator bagi orang-orang yang memandang bahwa kesenangan duniawi adalah segalanya dalam hidup ini.

Manusia (pria dan wanita) yang memiliki nafsu-nafsu seks yang abnormal, tidak terintegrasi dalam kehidupan, dan keroyalan seks, hyperseks, sehingga tidak pernah merasakan kepuasan relasi seks dengan satu pasangannya akan memilih cara melacurkan diri. Dengan alasan tekanan ekonomi, factor kemiskinan, pertimabangn ekonomis untuk dapat survive mempertahankan kelangsungan hidupnya menjadi alasan-alasan lama yang duipergunakan pria atau wanita yang melakukan pelacuran. Hal ini ditambah lagi dengan anggapan bahwa pekerjaan melacurkan diri dapat memperoleh penghasilan dan hasil pendapatan yang besar dan status social yang diinginkan tanpa perlu kerja berat, tanpa memerlukan intelegensia tinggi, tanpa perlu keterampilan khusus, mudah dikerjakan, asalkan orang yang bersangkutan memiliki kecantikan, keberanian, diisyaratkan sebagai lampu hijau melakukan praktek prostitusi.

Pria kota pun tidak lepas perannya dari praktek prostitusi. Dengan bermacam-macam alasan, mereka “membenarkan” perbuatan mereka untuk menikamati para wanita-wanita yang melacur (WTS). Rasa iseng untuk mendapatkan variasi seks yang berbeda dari pasangannya (istri), istri sedang berhalangan (haid, hamil) dan rasa tidak perlu bertanggung jawab atas akibat relasi seks yang dilakukan dengan WTS, misalnya tidak perlu membina rumah tangga dan menjamin kehidupan istri dan keturunan, sehingga dirasalan lebih ekonomis namun sangat nikmat, menjadi alasan “jahat” pria untuk memilih melakukan prostitusi dengan WTS.

Prostitusi sebagai bagian dari kehdiupan kota semakin menjadi-jadi. Promiskuitas yang dimulai dari seks bebas terutama di kalangan remaja kian mengkhawatirkan. Remaja yang cenderung memiliki jiwa dan rasa keingintahuan yang besar kadang tidak luput terjerumus kepada paraktek prostitusi. Kemudahan untuk melakukan prostitusi dengan imbalan yang dirasakan “besar” menjadi alasan remaja melakukan praktek ini. Bahkan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin ketika hubungan seks yang diawali dengan coba-coba kemudian menjadi suatu kebutuhan, tanpa harus melewati lembaga pernikahan yang syah.

Eksploitasi seksual dalam video klip,majalah, televisi, dan film-film ternyata mendorong para remaja untuk melakukan aktivitas seks secara sembarangan di usia muda. Dengan melihat tampilan atau tayangan seks di media para remaja itu beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang bebas dilakukan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja.

Menurut Jane Brown, ilmuwan dari Universitas North Carolina yang melakukan penelitian tentang hubungan antara pengaruh media masaa terhadap perilaku seksual remaja menyatakan bahwa semakin banyak remaja disuguhi dengan eksploitasi seks di media, maka mereka akan semakin berani mencoba seks ini di usia muda.

Pada saat yang sama, orang tua juaga melakukan kesalahan dengan tidak memberikan pendidikan seks yang memadai di rumah dan membiarkan anak-naka mereka mendapatkan pemahaman seks yang salah dari media. Akhirnya jangan heran kalau persepsi yang muncul tentang seks di kalangan remaja adalah sebagai sesuatu yang menyenangkan dan bebas dari resiko (kehamilan ataupun tertular penyakit kelamin)

Parahnya lagi, menurut hasil penelitian tersebut, para remaja yang telanjur mendapat informasi yang salah dari media cenderung menganggap bahwa teman-teman sebaya mereka juga sudah terbiasa melakukan seks bebas. Mereka akhirnya mengadopsi begitu saja norma-norma sosial “tak nyata” yang sengaja dibuat oleh media.

Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan seperti ini, ditambah lagi dengan arus informasi media massa tersebut yang kian deras menghantarkan informasi ke tiap rumah, di jalanan, dan dimanapun kita berada, menambah aksesibilitas praktek seksualitas demikian mudah diemui. Kecenderungan ini lambat launakan merambah ke dunia prostitusi sebagai sesuatu yang dibutuhkan, menyenangkan, dan mendapatkan penghasilan. Sekarang, bagaimana peranan norma yang mengatur tata kehidupan masyarakat agar praktek prostitusi tidak semakin meluas dan menjadi keseharian konsumsi dalam kehidupan kita?

(bersambung….)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s