Wartawan dan Dunia Ketiga

Standard

Pada era globalisasi seperti sekarang ini, peran wartawan mutlak diperlukan. Namun, tahukah kita apa itu wartawan ? Siapa yang disebut wartawan? Atau bagaimana kerja seorang wartawan ?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wartawan adalah orang yang pekerjaannya mencari, dan menyusun berita untuk dimuat di surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Sedangkan menurut Abdullah Alamudi, wartawan adalah manusia yang melakukan kegiatan sehari-hari sebagai pencari dan pemburu berita, pengumpul berita, pembawa, penyusun, juga pengajak berfikir, tukang kontrol, serta tukang hibur dengan menggunakan bahasa tulisan sebagai medianya.

Secara kasat mata saja, menjadi seorang wartawan sangat melelahkan. Ia kesana kemari mengejar berita. Namun entah kenapa, profesi wartawan tidak pernah sepi peminatnya. Mungkin karena faktor petualangannya dan tantangannya yang tidak dimiliki profesi lain. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri dalam kewartawanan.

Kemudian disini kita akan mengulas bagaimana kerja seorang wartawan. Peran apa saja yang ia miliki, masalah apa yang mereka hadapi, dan bagaimana pula bentuk-bentuk berita yang mereka cari dan dapatkan dengan menspesifikasikannya pada kewartawanan dunia ketiga.

Dunia ketiga ? Apa yang dimaksud dengan dunia ketiga ?

Menurut mantan Mentri Perencanaan Mesir, Ismail Sabri Abdalla, yang mengemukakan mengenai konsep dunia ketiga. Beliau mengatakan bahwa istilah dunia ketiga sekedar merujuk pada semua negara yang belum menjadi negara industri dan kaya, selama proses sejarah pembentukan Tata Dunia Sekarang. Yang termasuk negara-negara dunia ketiga misalnya Chili, India, Liberia, dan mungkin Indonesia termasuk didalamnya.

Wartawan dan dunia ketiga tidak dapat dilepaskan antara satu sama lain berkaitan dengan peranannya dalm menyampaikan informasi kepada masyarakat, dimana didunia ketiga, masyarakatnya adalah masyarakat yang baru membuka diri terhadap dunia luar, yang masih meraba-raba dalam membangun, yang mengalami perubahan dengan cepat dari waktu ke waktu, sehingga menuntut wartawan harus selalu sigap dan waspada terhadap apa yang yang akan mereka beritakan kepada masyarakat.

Sedikit ulasan berikut mungkin dapat membuka mata kita, bagaimana bentuk peran wartawan dunia ketiga dan seputar beritanya.

Peran Wartawan Dunia Ketiga

Sebenarnya bagaimana bentuk peranan wartawan dunia ketiga tersebut ? Sering kita mempertanyakan hal itu, terutama bila kita menginginkan untuk menjadi seorang wartawan dalam konteks didunia ketiga.

Peran utama seorang wartawan dunia ketiga adalah mereka menulis untuk dan mengenai negara atau masyarakat yang dengan atau hampir memulai pembangunannya sebagai suatu negara berdaulat. Inilah hal utama yang membedakannya dengan peran wartawan dunia pertama dan dunia kedua. Wartawan dunia ketiga setiap hari berhadapan dengan dunia yang terus menerus berubah. Karena hidup didunia yang berubah setiap hari, maka wartawan dunia ketiga harus lebih waspada, lebih peka terhadap apa yang berlangsung didaerah atau negerinya.

Dengan keadaan negerinya yang baru mulai terbuka, wartawan dunia ketiga harus selalu ingat bahwa banyak pembacanya mungkin adalah orang yang baru melek huruf atau mereka adalah orang yang sedang mengubah gaya hidup mereka dari pedesaan ke perkotaan. Wartawan dunia ketiga tidak boleh lupa bahwa media adalah pendidik serta pembawa informasi kepada masyarakat yang sudah terdidik. Manusia di seluruh dunia mengharapkan media mereka menunjukkan pula yang memberikan aspirasi untuk hidup lebih baik.

Wartawan dunia ketiga memiliki tugas untuk mendidik orang-orang yang membaca korannya tentang kenyataan hidup dalam suatu masyarakat dan budaya. Ini tidak harus berarti bahwa penolakan terhadap semua kebudayaan asing. Tapi ini paling sedikit berarti bahwa wartawan akan menawarkan sesuatu yang bergairah dan relevan bagi pembacanya.

Seorang wartawan disuatu masyarakat yang baru merdeka dan sedang membangun memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih berat dan penting dibanding dengan rekan-rekannya dinegara yang lebih tua dan lebih maju.

Mungkin yang tidak pernah dipikirkan orang sebelumnya bahwa wartawan dunia ketiga juga bertindak sebagai teladan kaum muda. Penting bagi muda-mudi melihat para wartawan, dokter, guru, dan kaum profesional lainnya terampil dalam pekerjaan mereka dan tidak tergantung pada pimpinan asing untuk melakukan pekerjaan tersebut. Surat kabar yang diproduksi oleh dan untuk rakyat dunia ketiga adalah bukti nyata kebebasan dari pengaruh luar.

Wartawan dunia ketiga masih memiliki peran lain, peran yang tidak terlalu dipikirkan wartawan barat, meskipun ada kalanya mereka mempraktekkannya juga. Peran ini adalah membantu menyampaikan umpan balik kepada pembuat keputusan yang berdampak pada masyarakat atau bangsa.

Peran lain wartawan dunia ketiga yang tidak begitu kentara adalah menantang anggapan bahwa “pembangunan” selalu mengikut langkah-langkah Eropa atau Amerika.

Sebagai seorang wartawan, kita harus independen. Jangan selalu mengikuti pola-pola barat yang berbeda nilai-nilai beritanya. Wartawan dunia ketiga mesti pandai memilah dan memilih serta cermat dalam melihat persoalan-persoalan, kejadian ataupun peristiwa yang terjadi dinegeri mereka dengan tidak melupakan situasi dan kondisi yang menyelimuti negeri mereka tersebut.

Masalah Wartawan Dunia Ketiga

Sebagai seorang wartawan, yang mendapati dirinya selalu berada dalam dunia yang terus bergulir dengan cepat, dimana ia menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk mencari dan mencari berita.

Masalah pertama yang dihadapi seseorang apabila ia menginginkan dirinya menjadi seorang wartawan adalah perlunya persiapan baik mental maupun spiritual. Untuk memasuki dunia kerja wartawan, tidak cukup hanya dengan ia lulusan perguruan tinggi dari jurusan komunikasi misalnya, bahkan dengan IP yang cum laude maupun summa cum laude. Itu tidak cukup, bahkan jauh dari cukup. Untuk menjadi wartawan yang handal, ia memerlukan latihan-latihan dan yang sangat penting ia harus memiliki pengalaman.

Tidak pernah dituntut kriteria untuk menjadi seorang wartawan adalah ia berpengalaman menjadi wartawan. Selalu ada yang pertama kali. Pengalaman merupakan pelajaran hidup yang paling berharga, yang paling bisa diterima dan diandalkan. Dengan pengalaman hidup yang kita jalani, kitas kembangkan atau kita manifestasikan pada saat kita melatih diri menjadi seorang wartawan.

Namun, tidak dapat dipungkiri memang, bahwa salah satu persoalan terbesar yang dihadapi wartawan dunia ketiga adalah kurangnya latihan realistis yang mereka peroleh disekolah sebelum memasuki lapangan kerja. Dan pelatihan magang serta kaderisasi masih sangat jarang di banyak negara dunia ketiga.

Alasan lain yang lebih tersembunyi bagi buruknya persiapan untuk menjadi wartawan dunia ketiga adalah bahwa selama bertahun-tahun, mahasiswa hanya bisa bicara, bicara, dan bicara saja. Namun disamping kurangnya pengalaman dasar wartawan dunia ketiga, ada persoalan lebih sulit yang mempengaruhi pekerjaannya sehari-hari. Mungkin hal paling mendasar dari masalah ini adalah bahwa dinegara-negara yang baru muncul, seluruh masyarakat ditimpa persoalan. Wartawan tidak mengasingkan diri dalam melakukan pekerjaannya itu dilakukan sebagai bagian dari apa yang terjadi didalam masyarakat atau bangsa.

Kekurangan uang adalah rintangan utama yang harus dihadapi sebagian besar wartawan dunia ketiga. Sering kali gaji wartawan dunia ketiga tidak cukup untuk membiayai diri mereka dan keluarganya. Ketidakcukupan gaji ini menimbulkan persoalan lain. Wartawan menerima “amplop” atau “retainer”, uang jasa dari orang yang berkuasa untuk menjamin bahwa mereka mendapatkan perlakuan menyenangkan bila wartawan menulis berita.

Selain kedua masalah diatas, wartawan dunia ketiga juga menghadapi masalah kredibilitas. Sekalipun mereka adalah wartawan yang etis, masalah kredibilitas media lantas menjadi soal kredibilitas pribadi bagi wartawan yang bersangkutan. Kalau tidak ada yang percaya pada kebenaran atau keseimbangan dari penerbitan itu, maka tak seorang pun yang akan percaya pada wartawan yang bekerja pada media itu.

Pemusatan kegiatan pembangunan secara berlebihan diibukota atau beberapa kota penting lainnya menimbulkan ketegangan besar disana pada saat yang sama mengabaikan apa yang terjadi dikota-kota provinsi atau daerah pedesaan lainnya. Media komunikasi sering berkembang dengan baik dibeberapa kota dan secara sangat menyedihkan amat terbelakang didaerah diluar pusat-pusat itu. Hal ini membawa masalah bagi pekerjaan wartawan yang secara kebetulan ditempatkan ditempat-tempat yang minim pembangunan seperti itu. Wartawan harus terus menerus berurusan dengan kesulitan dalam komunikasi karena kurangnya pelayanan telepon dan telegram, serta kurangnya jalan yang baik, ketidaklancaran pelayanan kereta api atau pesawat udara dalam negeri mereka.

Hal ini membawa dampak negatif, sehingga wartawan dunia ketiga cenderung untuk menyerbu kekota-kota besar dan menetap disana daripada bekerja didaerah lain negeri itu. Di beberapa ibukota dunia ketiga, terdapat banyak surat kabar yang bersaing dengan jumlah penduduk yang bisa baca tulis, sementara hanya Koran-koran yang lesu darah dan tidak banyak jumlahnya bisa ditemukan dikota-kota lebih kecil.

Masalah lainnya adalah wartawan yang membuat tulisan dengan gagasan ide dan jargon yang rumit akan menyulitkan pembacanya dalam menangkap apa yang disampaikan wartawan itu. Untuk membuat tulisan yang sederhana dan gampang dimengerti memang sulit, disinilah wartawan ditantang untuk “mengerti” keinginan pembaca dengan tidak mempersulit tulisan sehingga apa yang ingin mereka sampaikan akan diterima dengan baik.

REFERENSI:

Pedoman untuk Wartawan

Disunting oleh : Albert L. Hester dan Wai Lan J. To

Diterjemahkan oleh : Abdullah Alamudi

Terbitan : USIS, Jakarta

Tahun : 1987.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua

Terbitan : Balai Pustaka

Tahun : 1995.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s