Belajar dari Peribahasa

Standard

Peribahasa merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang mendapat tempat tersendiri dalam kebudayaan masyarakat melayu. Bahasa melayu sebagai induk Bahasa Indonesia memiliki peribahasa yang kerap digunakan untuk menyampaikan pesan lisan secara tersirat. makna yang terkandung dalam peribahasa terkadang ada yang langsung dipahami makna atau artinya, namun adapula yang memerlukan pemahaman yang lebih mendalam.

Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba di susukan

artinya:
kemurahan yang berlebih-lebihan dalam hal kemiskinan, tidak mengindahkan urusan sendiri, melainkan berusaha bersungguh-sungguh mengusrus dan menyelesaikan perkara orang lain

Perumpamaan yang diungkapkan dalam peribahasa ini mengandung makna yang dalam. anak, merupakan anugerah terindah yang dimiliki oleh sepasang insan yang telah menikah. namun, takkala ia melihat seekor beruk (sejenis kera) di rimba (hutan belantara) yangs edang sendiri, maka tanpa terbebani apapun, anak yang sebelumnya dipangku, dilepaskan begitu saja. beralih kepada beruk tersebut yang kemudian disusukan diberi kasih sayang.

Perumpamaan ini demikian tepatnya untuk menyindir seseorang yang tidak tahu menghargai dan mensyukuri atas kenikmatan yang dimiliki. hak milik sendiri disia-siakan, sedangkan milik oran lain, mulai ikut campur menikmati. hal ini juga unutk menyindir seseorang yang tidak peduli dengan tugas, kewajiban, ataupun urusan sendiri yang seharusnya diselesaikan, namun urusan orang, tugas, ataupun kewajiban orang malah dengan senang hati dikerjakan. akibatnya, kita alpa dengan diri kita sendiri.

Dalam kehidupan nyata, kita sering melihat orang cenderung lebih tertarik kepada hak milik orang lain, tidak puas dengan apa yang dimiliki, apalagi menghargai milik sendiri. Hal ini disebabkan faktor kebutuhan manusia yang tidak pernah puas. Hal ini sudh menjadi kodrat manusia yang diciptakan u untuk terus berusaha mencapai kebutuhannya. negatifnya, terletak pada bilamana kita tidak bisa mempergunakan apa yang kita miliki secara maksimal, kita justru melihat milik orang lain.

Etikanya, hal ini tidak pantas dilakukan, karena mengambil milik orang lain, tidak bersyukur aras apa yang dimiliki, sehingga cenderung timbul perasaan iri dan dengki. bilamana itu berlanjut, bukan tidak mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hanya untuk mengurusi perkara orang lain atau mengambil hak orang lain.

Secara estetika, perumpamaan yang digunakan sangat tajam dan jelas. Mengumpamakan anak dengan beruk merupakan suatu metafora yang sangat kontras dan tidak layak, untuk menunjukkan anak sebagai anugerah terindah dilepaskan demi seekor beruk.

Belajar dari peribahasa merupakan suatu upaya insan untuk lebih memahami makna hidup, melalui bahasa, melalui budaya, agar kita menjadi insan yang lebih baik dan bersyukur. InsyaAllah. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s