Eksistensi Anak Tunagrahita

Standard

Eksistensi anak tunagrahita membawa cerita tersendiri dalam suatu keluarga. Ada orang tua yang menerimanya sebagai takdir, namun ada pula orang tua yang tidak mudah menerima kenyataannya. Reaksi yang muncul, seperti timbulnya perasaan terpukul dan bingung. Dari perasaan-perasaan inilah kemudian timbul reaksi yang beragam, antara lain rasa sedih, rasa bersalah, rasa kecewa, rasa malu dan juga mungkin pada akhirnya pasrah menerima apa adanya.

Tunagrahita merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata. (Somantri, 2007:103). Dalam kepustakaan bahasa asing digunakan istilah-istilah mental retardation, mentally retarded, mental deficiency, mental defective, dan lain-lain. Istilah tersebut sesungguhnya memiliki arti yang sama menjelaskan kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. (Somantri, 2007:103).

Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut (http://www.ditplb.or.id):

(1). Lemah fikiran ( feeble-minded);(2). Terbelakang mental (Mentally Retarded); (3). Bodoh atau dungu (Idiot);(4). Pandir (Imbecile);(5). Tolol (moron);(6).Oligofrenia (Oligophrenia);(7). Mampu Didik (Educable); (8). Mampu Latih (Trainable);(9). Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat; (10). Mental Subnormal; (11). Defisit Mental; (12). Defisit Kognitif; (13). Cacat Mental; (14). Defisiensi Mental;(15). Gangguan Intelektual

Karakteristik anak tunagrahita (http://www.ditplb.or.id ):
1. Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
2. Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
3. Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat.
4. Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana, sulit menjangkau sesuatu , dan mendongakkan kepala.
5. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti: berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
6. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main.
7. Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dll.

Tunagrahita terbagi menjadi beberapa kategori yakni:
1. Tunagrahita Ringan (debil atau mild)
Tunagrahita ringan disebut juga moron. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet, sedangkan menurut skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Karakteristiknya antara lain kemampuan dalam hal bahasa, pemusatan perhatian, dan akademiknya kurang. Perkembangannya 1/2 hingga 3/4 anak normal seusianya. Penanganannya bisa dengan sering memberikan feedback. Selain itu, di.bantu dengan memberikan semangat, juga mengulang perbendaharaan kata-kata hingga pengulangan tugas dari yang sederhana ke arah yang lebih sulit. Walaupun demikian, mereka masih dapat belajar membaca, menuis dan berhitung sederhana. Dengan bimbingan dan pendidikan yang baik, anak tunagrahita ringan oada saatnya akan dapat memperoleh penghasilan untuk dirinya sendiri. Pada umumnya anak tunagrahita ringan tidak mengalami gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti anak normal pada umumnya. (Somantri, 2007:106-107).

2. Tunagrahita Sedang (imbesil atau moderate)
Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (WISC). Anak terbelakang mental sedang bisa mencapai perembangan MA sampai kurang lebih 7 tahun. (Somantri, 2007:106-107). Anak kategori ini hanya bisa menghitung sampai angka 10, tidak dapat membaca, dan kurang mampu beradaptasi sosial. Sementara perkembangannya sekitar 1/4 hingga 1/2 dari anak normal seusianya. Anak dengan kategori ini bisa diberikan aktivitas sederhana seperti pengulangan kata-kata. Disamping itu, fokus pada program keterampilan seperti menggunting, dan mengecat.

3. Tunagrahita Berat (severe) dan Tunagrahita Sangat Berat. (profound)
Kelompok anak tunagrahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi menjadi berat dan sangat berat. Tungarahita berat (severe) memiliki IQ antara 32-20 menurut skala Binet dan antara 39-25 menurut skala Weschler (WISC). Tunagrahita sangat berat (profound) memiliki IQ di bawah 19 menurut skala Binet dan !Q dibawah 24 menurut skala Weschler (WISC). Kemampuan mental yang dapat dicapai kurang dari tiga tahun. Karakteristiknya, kemampuan berbahasa yang terlambat, bersikap pasif, serta mengalami masalah pada kemampuan motorik kasar dan halus. Penanganannya bisa difokuskan pada perkembangan motorik kasar sebelum motorik halus, atau melatihnya mengidentifikasi warna dan bentuk. Serta pendekatan multisensorik dan pertahankan konsistensi dalam satu aktivitas. Anak tunagrahita berat memerlukan bantuan perawatan secara totoal dalam hal berpakaian, mandi, makan, dan lain-lain. Bahkan mereka memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya. (Somantri, 2007:108).

Melihat kondisi ini, tunagrahita memerlukan perlakuan yang berbeda sesuai dengan tingkat keterbelakangannya. Eksistensinya di dalam masyarakat terkadang di pandang sebelah mata, bahkan dalam lingkungan keluarga pun terabaikan. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, tunagrahita merupakan makhluk Tuhan yang layak dan harus kita sayangi dan beri perhatian, dengan perlakuan yang khusus dan semestinya.

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s