Peduli pada Kekerasan Terhadap Anak

Standard

Ari Hanggara sempat menghebohkan pada dekade tahun 80-an. Kisah penyiksaan yang mengantarkannya kepada kematian menimbulkan berbagai kontroversial. Filmnya pun mendapat perhatian masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana rekonstruksi perbuatan orang tua yang tega “menyakiti” anaknya.

Kejadian seperti Ari Hanggara bukan tidak mungkin akan dialamii anak-anak lainnya. Kecenderungan orang tua untuk melakukan tindakan kekerasan kepada anaknya, menjadi suatu fenomena yang kita saksikan sehari-hari seolah hal seperti pemukulan, penyiksaan merupakan hal yang biasa.

Kadang-kadang orang tua tidak menyadari dengan tindakan kekerasan yang ia lakukan. Ia menganggap cubitan, pukulan, tamparan, hingga menggunakan “alat” untuk memukul merupakan suatu bentuk hukuman yang pantas diterima anak bila menyalahi peraturan. Benarkah demikian?

Film kartun Shin-Chan sering menampilkan bagaimana Shin-Chan dikejar-kejar ibunya untuk dipukuli, dan –Masya Allah-, anak-anak kita tertawa terbahak-bahak, karena menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu. Sedangkan kita sendiri mendiamkannya, seolah-olah itu hal yang wajar.

Tindakan kekerasan kepada anak, mulai dari memukul, menyiksa, atau melakukan kekerasan seksual, akan berakibat fatal bagi anak tersebut. Kecenderungan masyarakat untuk “diam” dan membiarkan tindakan kekerasan itu dengan dalih, bahwa itu merupakan hak privatisasi orang tua untuk memperlakukan anak mereka.

Bila anak dianggap sebagai “komoditi”, maka perlakuan orang tua tidak akan pernah penuh kasih sayang, toh ia hanya komoditi yang dapat digunakan semaunya, dapat diperlakukan sesukanya. Seperti yang diungkapkan Pelzer dalam bukunya A Child Called It, bagaimana ia dipanggil ibu kandungnya dengan sebutan “it”, sebutan untuk menyatakan benda mati, menjadikan perasaannya sangat terluka dan merasa dirinya adalah benda mati yang tidak ada gunanya hidup. Doktrin orang tua melalui kata-kata seperti mengatakan anak bodoh, nakal, goblok, dan lain sebagainya ataupun melalui tindakan fisik, justru akan membentuk kepribadian anak seperti itu, karena anggapan anak, apa yang dikatakan dan dilakukan orang tua adalah hal yang benar.

Anak merupakan cerminan orang tuanya. Sigmund Freud mengatakan “Child is the father of a man”. Anak adalah ayahnya manusia. Ini jelas tersirat bahwa seorang anak yang diperlakukan tidak baik sejak masih kanak-kanak akan memupuk perilaku tersebut hingga ia dewasa. Ketika ia menjadi ayah atau orang tua bagi anak-anaknya, bukan tidak mungkin ia akan memperlakukan anaknya seperti yang pernah ia terima dari ayahnya. Rasa dendam yang menyelimuti dirinya, membuat ia bertekad untuk meneruskan tradisi kekerasan itu kepada anaknya kelak.

Menurut Dave Pelzer, kekerasan pada anak mempunyai dampak negatif pada kemampuan kendali diri, dorongan hati, ketekunan motivasi diri, empati, dan kecakapan sosial. Pelzer menunjukkan kerugian pribadi akibat kekerasan dapat berkisar mulai dari pendidikan anak sampai buruknya kesehatan jasmani. Kekerasan yang dihadapi di masa anak-anak akan menghambat perkembangannya pada masa-masa pertumbuhan dan menghancurkan karir. Kerugian terbesar dari anak yang mengalami kekerasan adalah terperangkap serangan depresi, terganggu kesehatan dan agresivitasnya, serta cenderung berbuat kejahatan dan kekerasan.

Melakukan tindakan kekerasan kepada anak -terutama pada masa kanak-kanak- akan menjadi suatu hal yang biasa, ketika kita ingat bagaiman demikian mudahnya tindakan pemukulan dilakukan melalui tayangan televisi kita. Sebenarnya bagaimana rekonstruksi orang tua yang ” benar” dalam mendidik, dan membesarkan anaknya.

Membesarkan anak merupakan pengalaman yang paling membahagiakan sekaligus menakutkan yang pernah dirasakan manusia. Menurut Friel dan Friel, membesarkan anak dapat memberikan tekanan besar pada sumberdaya emosional, finansial, intelektual, spiritual dan fisik suami istri. Tidak aneh bila ada yang mengatakan bahwa suami istri akan merasakan kepuasan terbesar dalam perkawinan mereka ketika anak pertama lahir dan anak terakhir meninggalkan rumah.

Saat ini, apabila kita melihat realitas yang berkembang di masyarakat, mungkin dapat dengan mudah kita mengatakan bahwa banyak orang tua yang begitu tidak dewasa, sehingga mereka terkesan seperti anak-anak yang membesarkan anak-anak. Anggapan ini selalu benar pada tahap tertentu, dan selalu demikian, karena tak seorang pun dari mereka yang sepenuhnya dewasa dan sepenuhnya “sehat”.

“Tidak pernah ada kata terlambat bagi orang tua untuk belajar menjadi dewasa”, dan jika mereka mengambil resiko ini, akan selalu berakibat positif bagi anak-anak mereka. Yang harus diingat adalah, tindakan kekerasan kepada anak tidak pernah menyelesaikan masalah, justru akan membawa bencana pada akhirnya. Tanggung jawab kita selaku orang tua untuk membesarkan dan mendidik anak dengan baik dan “benar”. Sekarang tinggal bagaimana kita menganggap anak kita, sebagai komoditi, atau sebagai titipan Tuhan yang memerlukan kasih sayang dalam membesarkannya.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s