Media Massa dan Lingkungan Hidup

Standard

“Masalah lingkungan hidup memang kalah seksi dengan isu politik ataupun demokratisasi. Kita lebih asyik untuk berbicara politik, berteriak membela hak orang kecil. Tetapi tidakkah kita sadar bahwa kekayaan plasma nutfah yang kita miliki, berada dalam bahaya karena dicuri oleh orang-orang asing” (Tajuk Rencana KOMPAS, 25 Januari 2003)

Demikianlah tajuk rencana KOMPAS membuka keprihatinannya dalam masalah lingkungan hidup Indonesia di awal tahun 2003. Penyelundupan satwa liar, banjir, longsor, kebakaran hutan, illegal logging, kekeringan, dan berbagai persoalan tersebut, mendapat perhatian media cetak terbesar di Indonesia ini. Hal ini berkaitan dengan lingkungan dan bagaimana kita memperlakukan lingkungan yang kian hari kian cenderung destruktif dan hanya mementingkan kepentingan sesaat.

Masalah lingkungan hidup di Indonesia tidak pernah beranjak dari permasalahan diatas. Kebiasaan kita, hanya menanggapinya sebagai suatu rutinitas belaka. Setiap tahun, kita selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa “Indonesia ketika musim hujan kebanjiran dan ketika musim kemarau kekeringan dan kebakaran”.

Lantas, kapan kita sadar bahwa lingkungan hidup kita sedang berada di ujung tanduk? Kita harus lebih serius menangani persoalan lingkungan hidup di negara ini, yang menyimpan sebuah bahaya kemanusiaan yang sangat besar. (Tajuk Rencana KOMPAS, 31 Januari 2003).

Lingkungan hidup mulai menghentak dunia pada akhir dasawarsa 1960-an. Awalnya wakil Swedia di PBB pada 28 Mei 1968 meluncurkan usul agar PBB menjajaki kemungkinan menyelenggarakan konferensi internasional tentang lingkungan. Langkah lebih jauh PBB membentuk panitia persiapan konferensi internasional tentang lingkungan.

Konferensi yang dihadiri oleh 112 negara (termasuk Indonesia) berlangsung 6-16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia, dan membuahkan Stockholm Declaration memuat 62 asas yang bertemakan satu bumi. Yaitu, pembangunan tanpa merusak lingkungan dan memuat 5 deklarasi; tentang pemukiman, pengelolaan sumber daya alam, pencemaran, pendidikan, dan pembangunan (LPDS, 1996:96).
Konferensi itu dikenal sebagai Konferensi Stockholm, dan hari pembukaan tersebut yaitu tanggal 5 Juni telah disepakati sebagai hari lingkungan hidup sedunia (Darsono, 1994:10).

Dalam kaitannya dengan masalah lingkungan hidup, media massa telah dimanfaatkan sebagai salah satu dari sekian banyak saluran komunikasi. Media, khususnya pers, telah dipergunakan oleh para pemerhati lingkungan hidup, pemerintah dan berbagai lapisan masyarakat, baik sebagai saluran untuk mengekspresikan dan menyebarluaskan aspirasi dan misi masing-masing, maupun sebagai saluran input/umpan balik komunikasi. Komunikasi dilakukan baik untuk menarik dukungan publik bagi sebuah isu lingkungan maupun kebijaksanaan (pemerintahan) dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam hal ini, pers dipandang sebagai alat kekuasaan yang memiliki kemampuan dalam hal menarik dan mengarahkan perhatian; membujuk pendapat dan anggapan, mempengaruhi pilihan sikap (misalnya dalam pemberian suara pemilu), memberikan status dan legitimasi, mendefinisikan dan membentuk persepsi tentang realitas(Mc Quail, 1987:82).

Media massa, selain lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tumbuh merebak di negeri ini telah sangat memperdalam kesadaran publik akan pentingnya upaya memelihara lingkungan yang nyaman bagi kehidupan. Media massa ikut menyumbangkan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan masalah lingkungan untuk membangkitkan kesadaran itu. Sebab, tanpa pengetahuan, upaya menanggulangi masalah lingkungan mungkin malahan menghasilkan kekeliruan yang mengakibatkan bencana (LPDS, 1996:x).

Menurut Undang-Undang No.23 Tahun 1997, Bab 1, pasal 1, dijelaskan, Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Bila kita melihat pengertian dalam Bahasa Inggris yang diartikan pada kata environment dalam the Lexicon Webster Dictionary adalah:
All the physical and cultural factors and conditions influencing the existence or development of an organism or assemblage of organism, the act of surrounding the state of being surrounded…”

Masalah lingkungan yang ‘mengepung’ negeri ini bukanlah hanya pencemaran industri. Memang, trend masalah lingkungan yang muncul cenderung ke arah brown problem (masalah yang berkaitan dengan polusi udara akibat industri), daripada sebelumnya yang menitikberatkan green problem (masalah yang berhubungan dengan hutan). Apakah karena permasalahan brown seperti pencemaran industri, lebih mendesak untuk diatasi? Belum tentu. Yang pasti, masalah green pun, seperti kerusakan alam karena berkurangnya hutan hujan tropis atau hutan bakau, sama-sama mendesak untuk dicarikan jalan keluarnya (LPDS, 1996:55)

Media massa diakui oleh LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) adalah alat paling efektif dalam melibatkan publik dalam perdebatan mengenai pembangunan berkelanjutan. Akan tetapi, diingatkan juga oleh WALHI, bahwa untuk merangsang perdebatan, media massa tidaklah cukup apabila sekedar berupa berita, melainkan perlu menghadirkan feature berkedalaman (WALHI menyatakan hal itu dalam kata pengantar diskusi ‘Peningkatan Hubungan Media-LSM Guna Mensosialisasikan Pembangunan Berkelanjutan’, di Jakarta, Juni 1996).

Namun, peranan pers, baik media cetak maupun media elektronik, dalam mengangkat masalah-masalah lingkungan hidup di Indonesia sampai saat ini dinilai belum optimal sehingga upaya sosialisasi terhadap masyarakat agar ramah terhadap lingkungan belum mencapai hasil maksimal. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya masalah lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia (Suara Pembaruan, 6 Mei 2003).

Eksploitasi hutan dalam kurun waktu panjang telah menimbulkan kerusakan hutan parah hingga mengganggu keseimbangan lingkungan. Ini ditandai dengan terjadinya bencana longsor dan banjir di berbagai kawasan sekitar KEL dan menurunnya jumlah spesies hayati (KOMPAS, 10 November 2003).

Semua masalah ini, apabila tidak diinformasikan kepada khalayak, antara lain melalui media massa, dapat menimbulkan bencana tak terduga karena masyarakat tidak siap dan kurang memahami persoalannya. Oleh karena itu adalah tugas wartawan untuk mengungkapkan masalah lingkungan secara jelas dan gamblang. Semakin sering masalah lingkungan muncul, secara tidak langsung berdampak terhadap kesadaran masyarakat dalam memelihara kelestarian lingkungan (LPDS, 1996:55).

Karena itu, peran wartawan masalah lingkungan adalah terus menerus melakukan upaya berkesinambungan untuk memberikan informasi kepada masyarakat dan meningkatkan kesadaran mengenai lingkungan ini. Wartawan lingkungan juga harus memiliki kesanggupan untuk memahami informasi teknis dan ilmiah khusus yang canggih dan menuliskan kembali atau menyunting ulang dalam gaya sederhana yang cocok bagi masyarakat (Hester dan J. To, 1987: 121).

Dalam pasal 6 UU pers No 40 tahun 1999, ditegaskan lima peranan pers nasional, yaitu:
1. Memenuhi hak mayarakat untuk mengetahui
2. Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan hak asasi serta menghormati kebhinekaan.
3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar.
4. Melakukan pengawasan, kriitk, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum.
5. Memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Pers dalam hal ini media cetak dapat melaksanakan peranannya melalui pemberitaan dan opini yang ada dalam medianya. Salah satu peranan pers tersebut dapat diwujudkan melalui tajuk rencana. Fungsi mempengaruhi dari surat kabar secara implisit terdapat pada berita, sedang secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana (Effendy, 1981:101).

Pihak media memang sering menilai dirinya sebagai refleksi masyarakat, yang menampilkan gambaran masyarakat secara lebih jelas dan memungkinkan unsur-unsur dalam masyarakat mengekspresikan dirinya kedalam segenap anggota masyarakat. Konsep media sebagai penyaring telah diakui masyarakat, karena media seringkali melakukan seleksi dan penafsiran terhadap suatu masalah. (McQuail, 1987: 53).
———-

One response »

  1. bagus sekali mbak.
    Anyway, perkenalkan, nama saya Gilang dari komunikasi UI 2008.
    Mbak Aliyah ini, kalau saya nilai dari postingan2nnya agaknya juga mahasiswa komunikasi ya?
    salam kenal ya mbak
    mari kita berbagi ilmu.

    Oia, jangan lupa berkunjung ke blog saya di http://langitdipucukdaun.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s