Fungsi Otak: IQ, EQ, dan SQ

Standard

Otak kita merupakan sebuah ”perangkat” yang luar biasa. Dua belas miliar sel-sel saraf otak memiliki potensi untuk membuat lebih banyak pola keterkaitan dibandingkan dengan jumlah atom yang diperkirakan ada di jagat raya. Sejumlah besar bukti menunjukkan bahwa otak kita menyimpan ingatan tentang segala sesuatu yang pernah kita lihat, dengar, sentuh, bau, atau pikirkan. Kapasitasnya seperti tidak terbatas. Namun, kapasitas yang sangat besar itu tetap tersembunyi karena kebanyakan dari kita tidak pernah tahu bagaimana memanfaatkan otak secara maksimal. Para psikolog memperkirakan bahwa kita memanfaatkan kurang dari satu persen potensi otak kita. (Peter Russel dalam Gelb,2005:25-26)

Pada awal era 1970-an, Dr. Roger Sperry, seorang penerima nobel untuk bidang fisiologi dan kedokteran, merintis riset yang melahirkan gagasan populer tentang otak kiri dan otak kanan. Dengan mengkaji gelombang otak dari orang-orang yang mempelajari tugas-tugas yang berbeda, Sperry dan beberapa rekannya menyimpulkan bahwa kedua belahan-atau sisi-sisi-otak cenderung mengkhususkan diri pada pemikiran tertentu.

Otak kiri bertanggung jawab terutama untuk memproses hal-hal yang terkait dengan logika, bahasa, perincian, pola pikir matematis dan analisis, sedangkan otak kanan memproses hal-hal yang terkait denga ritme, warna, hubungan spasial, imajinasi, dan sintesis. (Peter Russel dalam Gelb,2005:27)

Sayangnya sejak dini, pendidikan kita mempersiapkan untuk terlalu menekankan pada kegiatan-kegiatan otak kiri, sperti membaca, menulis, dan aritmetika, adalah tiga mata pelajaran pertama yang kebanyakan dipelajari oleh kita. Mereka yang memiliki keahlian-keahlian ”otak kiri” yang dominan ini dianggap sebagai ”genius-genius” di kelas, yang kemungkinan besar dianggap akan memperoleh sukses. Sebaliknya anak-anak yang pandai membuat tulisan-tulisan yang kreatif, berkhayal, dan memukuli meja mereka dengan irama-irama yang inovatif dinilai dengan cara yang berbeda. Anak-anak kreatif yang penuh imajinasi ini kerap di cap sebagai ”anak-aak bermasalah” .Ciri khas otak kanan seperti berkhayal, berimajinasi, dan rasa humor jarang mendapat dukungan dalam proses pendidikan di sekolah.(Gelb, 2005:28-29)

Sejak temuan pertama Sperry tentang dua belahan otak, para peneliti mendapati bahwa setiap belahan otak ternyata mampu melakukan pekerjaan belahan otak lainnya, dan bahwa pembagian fungsi tersebut tidaklah setegas yang semula. Gelb mengusulkan istilah berpikir dengan ”belahan otak kiri” dan ”belahan otak kanan” untuk menyatakan berturut-turut kemampuan berpikir logis dan berkhayal. Dimana pun kemampuan-kemampuan tersebut ditemukan, kinerja maksimal kita merupakan hasil dari penggunaan mereka secara seimbang.(Gelb, 2005:158)

Menurut Ary Ginanjar, Inteligence Quotation berada pada neo cortex sementara Emotional Quotation berada pada Lymbic System.
IQ diperoleh dengan melatih kebiasaan kognitif umumnya lebih mudah dibandingkan melatih kecerdasan emosi (EQ). Melatih orang untuk mengoperasikan komputer, menghafal daftar, merupakan sederetan kebiasaan kognitif yang berasal dari otak kiri. Sedangkan otak kanan yang lebih berperan dalam kecerdasan emosi, bagaimana untuk konsisten, memiliki komitmen,berintegritas tinggi, berpikiran terbuka, memiliki kepercayaan diri, jujur, adil, bijaksana, dan lain sebagainya, jarang mendapat perhatian.(Ginanjar, 2005:xlviii)

IQ merupakan kecerdasan otak yang dimaksudkan untuk kecerdasan secara analitis, logika, matematis, dan lain sebagainya yang kerap dipelajari ketika sekolah. IQ tidak menjamin kesuksesan seseorang, karena ia hanya memaksimalkan penggunaan otak kirinya dalam berpikir. Segala sesuatu hanya diperhitungan dan dipikirkan secara matematis. IQ hanya menyentuh keterampilan kognitif. Contohnya; seorang anak yang sejak kecil hanya dididik dan diajarkan bagaimana berhitung yang cepat, bagaimana menulis yang bagus, bagaimana bisa memahami suatu pelajaran dengan cepat, maka akan diberikan predikat sebagai ”anak pintar”. Kecerdasan otak semacam ini sangat rawan bila tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional.

EQ atau kecerdasan emosional lebih menyentuh lapisan yang cukup dalam dari fungsi otak. EQ bekerja dalam bentuk afeksi yang berada pada otak kanan. EQ melalui proses kinerja otak akan berusaha maksimal ketika sensasi datang. Sensasi yang kemudian dia sosiasikan dengan pengalaman masa lalu, kemudian di persepsikan. Bilamana rang tersebut tidak memiliki kecerdasan emosional yang baik, maka asosiasi yang dimilikinya mungkin hanya akan keluar sebagai persepsi yang dangkal dan mentah, tanpa disertai dengan afeksi yang baik. Memori yang ia miliki kemudian digali lagi sehingga pada saatnya ia berpikir, ia akan jauh lebih baik menerima stimuli yang masuk tadi.

Contohnya; seorang dosen yang memiliki kecerdasan emosi yang baik, mampu berperan sebagai tenaga pengajar di kampus dan sebagai ibu rumah tangga di keluarganya. Kecerdasan emosi akan terlihat ketika dosen tersebut tidak membawa masalah keluarganya ke depan kelas, demikian juga sebaliknya, dia tidak akan membawa permasalah kampus ketika sedang bercanda dengan anak-anaknya. Dosen dituntut untuk mampu memerankan panggung depan dan panggung belakang, yang kita sebut sebagai pengelolaan kesan pada saat panggung depan sedang diperankan. Dosen sebagai panggung depan harus menampilkan pemikiran yang matang, bahasa yang santun, manner yang baik, dan penampilan yang tidak membosankan.

SQ atau Spiritual Quotation merupakan kecerdasan spiritual yang memiliki kemampuan utnuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pemikiran tauhid serta berprinsip ”hanya karena Allah

Sedangkan Danah Zohar dan Ian Marshall mendefinisaikan SQ sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. ”. (Ginanjar, 2005:57)

SQ berada pada pada alam tak sadar dari kinerja otak kita. Keyakinan, ketulusan, dan keikhlasan beribadah kepada Tuhan merupakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan bahkan digambarkan dalam fungsi otak kita. SQ lebih bergerak pada hati nurani manusia yang kemudia di pikirkan oleh otak dengan keseimbangan yang sempurna. Contohnya; seorang ulama ketika menyampaikan ceramahnya, sering mengutip ayat suci Alqur’an. Ketika dia mengutip itu, dia ”menyuarakannya” bukan hanya untuk orang lain yang sedang mendengarkan ceramahnya, namun juga untuk dirinya sendiri. Untuk memperkaya batinnya, untuk menyegarkan ingatannya, untuk menentramkan pikirannya. Dalam hatinya, begitu indah ayat suci AlQuran yang memiliki keindahan bahasa dan sturktur kata yang baik dengan makna yang dalam. Kemampuan dan kecerdasan spiritual senantiasa menjadikan seseorang menjadi seeorang yang ikhlas. Yakin, bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, ataupun apapun takdir yang Allah berikan merupakan yang terbaik baginya. Adalah kewajiban bagi dirinya utnuk mencari hikmah dibalik segala ciptaanNya. InsyaAllah.

……………………………..

2 responses »

  1. Saya sangat setuju dengan berbagai konsep di atas. Namun ada satu pertanyaan di benak saya mengapa seseorang sering cenderung menutup-nutupi dirinya. Seakan-akan dia kehilangan jatidirinya dan ditujukan untuk memperoleh ketenaran, kepopuleran atau bahkan kekayaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s