Aborsi, Masalah Laten Multidimensi

Standard

Setiap tahun terdapat sekitar 2,6 juta kasus aborsi di Indonesia. Aborsi atau abortus atau yang biasa dikenal masyarakat kita sebagai pengguguran kandungan berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Kadang-kadang kita tidak habis pikir, Apa yang membuat wanita menggugurkan kandungannya? Dimana rasa kasih sayangnya? Dimana rasa keibuannya?

Wanita merupakan makhluk yang indah. Ia memiliki kemuliaan yang tidak dimiliki oleh pria. Wanita memiliki rahim yang dalam Al-Qur’an dikatakan, bahwa rahim itu adalah kasih sayang. Wanita identik dengan kasih sayang. Rahim pada wanita merupakan tempat yang paling menyenangkan bagi janin yang kelak akan tumbuh sebagi anaknya. Rahim yang hangat dan kokoh akan melindungi janin dan segala sesuatu yang sekiranya akan menghalangi perkembangannya. Namun, tempat yang aman itu akan berubah menjadi neraka bagi si janin, apabila ia dicekoki jamu atau obat tradisional, suntikan hormon, bahkan pemijatan untuk mengeluarkan si janin dengan paksa dari tempatnya yang paling nyaman.

Masalah aborsi bukan hanya masalah wanita, karena aborsi merupakan masalah multidimensional yang melibatkan banyak unsur, seperti masyarakat, profesi kedokteran, dan perundang-undangan. Ia pun bisa dilihat dari beberapa aspek, seperti medis, hukum, moral, psikologi, ekonomi, dan sosial.
Banyak faktor yang melatarbelakangi timbulnya aborsi. Yang paling klise adalah mereka yang berusia 17-24 tahun melakukannya karena dua faktor.Pertama, pengetahuan remaja tentang seksualitas masih sangat rendah, dan kedua, faktor tidak adanya sensor dari dalam remaja sendiri terhadap rangsangan dari luar.

Hubungan di luar nikah yang menyebabkan kehamilan akan membawa persoalan pelik dalam kehidupan mereka. Di satu sisi, mereka merasa ini hasil perbuatannya dan mereka harus bertanggung jawab atasnya. Namun, di sisi lain, mereka malu untuk bertemu dengan orang-orang karena hamil di luar nikah. Seiring dorongan inilah mereka langsung mendatangi praktik aborsi dan melakukannya. Bahkan, orang tua mereka yang merasa malu akibat perbuatan anaknya, turut mendukung dalam praktek tersebut.

Kecenderungan masyarakat kita yang langsung memvonis wanita hamil di luar nikah sebagai wanita yang “tidak benar”, memaksa mereka untuk segera menggugurkan kandungannya, walaupun kondisi kehamilannya disebabkan oleh tindakan kekerasan (perkosaan). Kehamilan yang disebabkan oleh perkosaan sudah menjadi beban mental yang berat. Dilema memang dirasakan wanita yang mengalaminya. Hanya segelintir yang mau menerima kehamilan seperti itu, walaupun bila mereka melahirkannya, tidak sedikit yang akan menyia-nyiakan anak tersebut.

Secara medis, aborsi dapat dilakukan untuk keadaan darurat seperti misalnya, jika kehamilan itu membahayakan kesehatan fisik dan emosional si ibu. Dari segi ekonomi, kehamilan pada beberapa profesi akan memberikan konsekuensi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), seperti misalnya pramugari yang terikat kontrak kerja. Selain itu, beban finansial keluarga pun akan bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah anak.

Dari segi moral, kodrat seorang ibu adalah melahirkan dan melindungi anaknya. Jadi, tindakan mematikan janin pada dasarnya bertentangan dengan moral. Secara psikologis, aborsi dapat menimbulkan perasaan bersalah pada si ibu dan umumnya ia akan mengalami depresi kronis sampai beberapa bulan karena teringat pada bakal anak yang digugurkannya, belum lagi dari sisi sosial, bila ia masih berstatus pelajar, maka ada kemungkinan ia kan menjadi remaja putus sekolah karena malu. Sedangkan dari segi agama, agama apapun tidak menyetujui adanya praktek aborsi. Dalam kajian hukum Islam misalnya, aborsi terhadap janin yang telah berumur 120 hari hukumnya adalah haram.

Menurut hukum, sebagaimana di atur dalam pasal 15 UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan tindakan aborsi yang disengaja dan tanpa alasan khusus merupakan kegiatan yang dilarang, kecuali untuk menyelamatan jiwa ibu hamil dan atau janinnya. Selain itu masalah batasan usia kehamilan yang sah secara hukum untuk digugurkan belum jelas. Begitu juga mengenai jenis-jenis penyakit yang dapat menjadi alasan tindakan aborsi. Alhasil, di Indonesia, pelaksanaan aborsi diselewengkan untuk alasan non medis bahkan komersial.

Terlepas dari semua penyebab dan dampak yang ditimbulkan, sekiranya kita harus mencari jalan keluar. Masalah aborsi tidak bisa berdiri sendiri dan tidak mungkin diselesaikan oleh satu sudut pandang saja. Ia merupakan masalah kompleks yang membutuhkan berbagai kebijakan, baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri. Pencegahan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan merupakan solusi terbaik. Pendidikan agama, moral, reproduksi, ataupun berbagai kegiatan penyuluhan, dapat menjadi langkah awal untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Bahkan, penggunaan alat kontrasepsi pun, terutama pasca menikah, secara tidak langsung dapat meminialisasi angka aborsi.

Pendidikan seks diberikan orang tua kepada anak ketika mengalami masa puber. Agar efektif, orang tua harus memperhatikan cara yang tepat dalam mengkomunikasikannya. Ajak anak berbicara seperti teman dan jangan terkesan menggurui. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perhatian terhadap anak. Pertama, peningkatan intensitas dan kualitas dari perhatian tersebut. Maksudnya adalah, di tengah sibuknya orang tua atau si anak sendir, harus disisakan waktu untuk dapat berkomunikasi dengan bauik. Kedua, orang tua harus memberikan keteladanan kepada anak. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mampu memberikan keteladanan kepada anak-anaknya. Ketiga, mendorong agar anak masuk pada situasi dan lingkungan yang agamis.

Di jaman modern seperti sekarang, informasi mudah diperoleh dimana saja dan kapan saja. DVD porno, internet, ataupun buku-buku yang menjurus ke arah “itu”, dapat merangsang remaja untuk mendapatkan pengetahuan tentang seks yang tidak mereka dapatkan dari orang tuanya. Orang tua yang menyayangi anaknya tidak akan membiarkan anaknya terkungkung dalam kondisi yang menyesatkan seperti itu. Anak harus mendapatkan perhatian dan pendidikan yang cukup. Sesuaikan cara mendidik anak dengan perkembangan jaman. Jangan memberikan pendidikan kepada anak seperti ketika mereka mendapatkannya dari orang tuanya dulu. Jaman terus berubah. Kedinamisan jaman mesti diiringi dengan kedinamisan orang tua dalam membesarkan anaknya, walaupun ada nilai-nilai yang tidak dapat diubah, misalnya sopan santun.
Orang tua harus mampu memberikan jawaban yang diinginkan anak untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Pengetahuan yang mereka peroleh dari pihak lain semacam internet dapat menyesatkan mereka, karena medium ini, selain memberikan informasi yang sepotong-sepotong, juga hanya memandang seks dari segi kepuasan biologisnya saja. Sehingga pada akhirnya, akan menyebabkan terjadinya hubingan seks di luar nikah yang merupakan salah satu faktor timbulnya kehamilan yang tidak diinginkan.

Aborsi, merupakan masalah laten yang tidak kunjung selesai. Hal ini berkaitan dengan manusia itu sendiri, dengan segala hawa nafsunya tidak memandang bahwa mereka melakukan tindakan yang mengerikan. Masalah aborsi memang multidimensional. Ia melibatkan banyak pihak dan banyak aspek. Namun, sebagai anggota masyarakat, kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk mencegah atau minimal mengurangi tindakan aborsi, terutama karena faktor non medis. **

referensi:
http://www.aborsi.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s