Bermimpi Menjadi Peserta Kuis di Televisi

Standard

Acara kuis bergulir tanpa henti di televisi kita. Tidak ada yang tidak menyajikan hadiah yang menggiurkan bahkan hanya sekedar kuis untuk anak-anak. Demikian maraknya acara kuis ditelevisi menjual berbagai impian pemirsa untuk memiliki hadiah-hadiah yang ditawarkan, dan itu tentu saja dapat terjadi bila pemirsa menjadi peserta kuis. Padahal, disadari atau tidak, bentuk kuis-kuis di televisi kita cenderung mengarah kepada perjudian.

Perjudian merupakan pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang diangap bernilai,dengan menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlmbaan dan kejadian-kejadian yang tidak/belum pasti hasilnya. Menurut Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 303 ayat 3, main judi itu berarti tiap-tiap permainan yang kemungkinanya akan menang pada umumnya tergantung pada untung-untungan saja; juga kalau kemungkinan bertambah besar, karena pemain lebih pandai atau lebih cakap. Main judi mengandung juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau main itu, demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Kecenderungan untuk melakukan perjudian sudah ada sejak manusia memulai peradabannya. menurutKartini Kartono dalam bukunya Patologi Sosial, pada mulanya perjudian itu berwujud permain atau kesibukan pengisi waktu senggang guna menghibur hati jadi sifatnya rekreatif dan netral. Pada sifat yang netral ini, lambat laun ditambahkan unsur baru untuk merangsang kegairahan bermain dan menaikkan ketegangan serta pengharapan untuk menang, yaitu barang taruhan, berupa uang, benda, atau sesuatu tindakan yang bernilai. Kini, seiring dengan kemajuan zaman, perjudian sudah merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan, dan kini penyebarannya pun kian “canggih” melalui komunikasi massa.

Komunikasi massa merupakan komunikasi melalui media massa, yakni surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film. Media massa menempati posisi yang demikian penting di masyarakat sekarang ini. Peranan media massa tidak dapat dipisahkan dari fungsinya untuk memenuhi kebutuhan akan pengawasan lingkungan , hubungan sosial , hiburan , dan transmisi kultural. Sebagai wadah yang mampu menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya, media massa menyajikan berbagai informasi yang bersangkutan dengan masyarakat itu sendiri.
Televisi, sebagai salah satu media massa yang populer di masyarakat, memiliki karakteristik tertentu . Karakteristiknya, seperti isi pesan audiovisual yang dapat dilihat dan didengar , menjadikannnya lebih unggul dibandingkan dengan media massa lainnya.

Pelaku perjudian melihat peluang yang menggiurkan di balik mudahnya akses televisi ke rumah pemirsa. Dengan iming-iming jutaan rupiah, mobil, rumah, atau hanya sekedar hadiah hiburan berupa sepatu cukup membuat pemirsa menggantungkan impian menjadi peserta kuis.
Memang, tampilan kuis yang memikat ditambah bintang tamu artis akan membuat pemirsa tertarik, belum lagi kuis-kuis yang disajikan relatif mudah, hanya menebak gambar, mengingat angka, menjawab benar atau salah, hingga hanya sekedar diam pun akan mendapatkan hadiah. Bentuk-bentuk “kemudahan” ini akan membuat masyarakat terlena dan dampaknya, kemauan kerja keras menjadi kurang karena mengharapkan dirinya menjadi peserta kuis.

Dampak perjudian seperti ini lambat laun akan mempengaruhi kelangsungan hidup negara, karena warga negaranya sibuk dengan permainan judi yang menghabiskan bukan hanya waktu, namun juga kemampuan fisik dan mental, materi dan non materi. Masyakat kita akan cenderung menjadi malas dan terus menunggu giliran menjadi peserta kuis.
Hidup manusia memang penuh dengan faktor spekulasi. Spekulasi yaitu kemungkian mendapatkan untung atau rugi berperan penting dalam aktivitas manusia. Jika dalam usaha tadi ada unsur untung-untungan melulu, maka aktivitas itu disebut judi. Lalu bagaimana membedakan dan menempatkan spekulasi yang benar sehingga tidak terjerumus menjadi judi ?

Dalam menjalankan segala aktivitas, manusia selalu dihadapkan pada dua pilihan; menang atau kalah, benar atau salah, untung atau rugi, dan dikotomi lainnya yang tidak dapat dipisahkan. Penempatan spekulasi yang benar, bila kita menjalani suatu aktivitas untuk mencapai suatu tujuan, kita memperhitungkannya dengan kalkulasi rasional dan data faktual, serta mempertimbangkan akibat-akibatnya bila kita memilih sesuatu dan bukan yang lainnya.

Perjudian di televisi memang agak “terselubung”, karena mengedepankan unsur hiburan dan pengisi waktu bagi pemirsa. Bagi peserta kuis hanya ditambah faktor hadiah sebagai “reward” karena turut berpartisipasi dalam acara kuis. Pengelola kuis dan stasiun televisi pasti menolak bila divonis telah melakukan pelegalan perjudian. Dan hebatnya lagi, kita pun merasa itu hanya tayangan yang menghibur karena menyaksikan peserta kuis bertarung memperebutkan hadiah.

Sebenarnya timbul pertanyaan di benak kita, apakah stasiun televisi “sengaja” menyajikan acara kuis itu untuk mengenalkan agenda perjudian sebagai sesuatu yang wajar dan pasti berlangsung seiring dengan nafsu manusia yang tidak penah puas dengan apa yang dimiliki? Apakah televisi sedang melakukan “agenda setting”, untuk melegalkan perjudian? Segala keputusan kembali kepada kita bagaimana kita mencermati tayangan kuis di televisi, sebagai hiburan belaka, atau akan terus bermimpi untuk menjadi peserta kuis.
—————–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s