Nasionalisme. Punyakah Kita?

Standard

Nasionalisme. Sebuah kata sakti untuk menunjukkan kecintaan individu pada tanah airnya. Menjadi sebuah bukti kebanggan individu akan status kewarganegaraannya. Atau justru menjadi sebuah impian ataupun ideologi yang ternyata memiliki tingkat abstraksi tinggi, bahkan cenderung absurd.

Seseorang yang membela negaranya, disebut sebagai nasionalis. Orang yang mengibarkan bendera di depan rumahnya takkala peringatan hari kemerdekaan pun disebut sebagai nasionalis. Bahkan, ketika “kewajiban” mengenakan batik bagi PNS di tiap hari Jum’at, pun… disebut sebagai perwujudan bahwa kita adalah negara yang memiliki warga negara nasionalis!

Banyak sekali simbol-simbol komunikasi yang dapat mengidentikasikan diri kita menjadi nasionalis. Atau tidak nasionalis. Simbol-simbol itu, kadang kita elu-elukan sebagai sebuah pembeda kita dengan bangsa lain, yang konon katanya tidak memiliki kebudayaan setinggi Indonesia. Hmm.. ini hal lain yang bisa dipertanyakan kembali, tapi lain kali saja. Karena, kali ini, saya sedang tergelitik dengan nasionalisme! Bukan apa-apa, trigger ini muncul pasca menonton pertandingan sepak bola antara Indonesia dengan Inter Milan di Gelora Bung Karno pada 26 Mei 2012 lalu.

Ironis. Atau saya berani mengatakan, kita tidak nasionalis. ketika team favorit dari Italia, datang dan bertanding dengan saudara sebangsa, kita justru lebih mendukungnya. Terbukti dari hampir seluruh penonton menggunakan kaos berwarna biru, atribut inter milan (kalo boleh dibilang diantara 100 orang, 2 orang pake baju merah putih). Simbol yang sederhana, namun sebenarnya mengoyak konsep nasionalisme, pelajaran PPKN, dan mata kuliah Kewarganegaraan, apalagi tentang wawasan kebangsaan yang selalu di doktrin oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Tapi, yah… apa mau dikata, apabila, kita lebih suka dan bangga untuk cinta dengan team favorit dari pada team negara yang (kurang) favorit. Gemuruh sorak sorai untuk team inter milan jauh lebih membahana daripada sorak sorai untuk team Indonesia…. padahal, lebih mudah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dari pada yel-yel Italia….

Nasionalisme, menjadi isu yang strategis, bila berkenaan dengan pertahanan dan keamanan (hankam) negara. Benar kiranya, bila masalah hankam ini tidak harus melulu berbicara tentang militer. karena masalah hankam, juga dapat dilihat dari perspektif yang lain, mulai dari budaya, bahasa, tata kehidupan, pranata sosial, bahkan nonton bola… Tapi, sepertinya semua bagai angin lalu ketika terbentur pada cerita Era Globalisasi….

Apakah saya tidak setuju dengan pasar bebas atau konsep global villlage?
Bukan… bukan itu maksud saya… kali ini tulisan saya hanya sedang merenung… dan bertanya….
nasionalime? apakah kita benar-benar memilikinya?
Benarkah bahwa kita sungguh-sungguh mencintai negara ini?

*Just a part of my journey of life seeing my surrounding….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s