Angkie, Antara Inspirasi dan Realiti

Standard

Saya baru saja lihat sebuah iklan yang menarik, tentang seorang perempuan yang menjadi inspirasi banyak orang, terutama bagi yang berkebutuhan khusus. Sosoknya secara personal terlihat menarik. kita tidak bicara mengenai fisik cantik, melainkan melalui sungging senyumnya dalam iklan tersebut. Luar Biasa.

Namanya Angkie Yudistia. Penasaran, saya klik website yang dimilikinya. Ternyata Angkie adalah seorang tuna rungu sejak usia 10 tahun. Kini usianya 25 tahun, namun beragam prestasi sudah diraihnya. sekali lagi, luar biasa.

Melalui respon-respon yang disampaikan oleh banyak orang baik dalam maupun luar negeri, Angkie dapat menjadi ikon bagi seorang pribadi yang menginspirasi. Bahkan melalui bukunya, Angkie menyatakan “bahwa hidup tidak semudah yang kita harapkan. Masalah selalu timbul setiap saat, tapi justru masalah yang membuat kita bijak dalam menghadapi masa depan.” Sederhana.. bahkan kita terlalu sering di doktrin ungkapan serupa, namun masalahnya justru terletak pada tataran melakukannya. Mandeg!

Inspirasi dan Realiti.

Akhir-akhir ini, kata “inspirasi” seringkali kita dengar. Motivator menjadi sumber inspirasi. Talkshow di setting meyakinkan untuk menjadi inspirasi. Bahkan Inspirasi Indonesia menjadi statement positioning bagi sebuah stasiun televisi. Dari mana datangnya inpirasi? dari mimpi? dari realiti? Atau justru inspirasi adalah mimpi yang menjadi realiti?

Banyak definisi yang dikemukakan, yang paling mudah misalnya melalui search engine. Macam-macam definisnya, mulai dari inspirasi adalah kualitas hidup, percikan ide kreatif, hasil dari rajin mengamati dan berfikir panjang, hingga secercah cahaya pendorong niat dan perbuatan. Inilah pemaknaan tiap orang, membuktikan bukan hanya manusia adalah homo sapiens yang diidentikkan pintar, juga menunjukkan bukti kebesaran Tuhan, betapa tiap manusia memiliki karakteristik yang unik, karena pemaknaan tiap individu berbasis pada Frame of Reference dan Field of Experience nya, tentu saja dengan seizin Allah.

Kembali lagi kepada sosok Angkie, yang diberikan talenta luar biasa, dan dengan kesadaran atas keterbatasannya yang kurang bisa mendengar, Angkie meyakinkan sekitarnya bahwa pada prinsipnya, manusia memiliki kelebihan yang tak terbatas, dimulai dengan lengkungan sederhana di bibirnya, sedekahnya kepada insan lainnya. Senyum. Yang kemudian dapat membangkitkan semangat banyak orang, karena sungging senyum itu menjadi refleksi bagaimana sosok Angkie yang sesungguhnya 

Angkie mampu menunjukkan dirinya, atau dalam teori Maslow, Angkie melesat menuju aktualisasi diri, sebagai hirarki tertinggi dalam tingkat kebutuhan manusia. Ia dapat menjadi sosok inspirasi bagi orang yang memiliki kesamaan dengannya, namun tidak menutup kemungkinan dirinya juga menjadi inspirasi bagi manusia yang secara fisik normal, yang seharusnya dapat lebih terpacu, minimal dengan “stop complaining for everything”.

Inspirasi dan Realiti, bisa jadi dua hal yang berbeda. Namun, inspirasi idealnya diwujudkan dalam realiti hidup. Bukan menjadi katalis saja dalam bertindak, melainkan kita dapat me- re-inspirasi pula bagi orang sekitar. Ibarat Multi Level Marketing, bisa kita mulai dengan target diri yang berkembang dan menular bagi downline seterusnya..

Angkie Yudistia menjadi sebuah contoh, bahwa dirinya menjadi inspirasi dan mewujudkannya dalam realiti, bukan hanya bagi dirinya, namun bagi dunia. Dan yakinlah, InsyaAllah kita juga bisa…Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s